Diduga Penyandang Dana Kelompok Teroris, Manajer Lembaga Zakat Diringkus Densus 88 Saat ke Masjid

Post a Comment


PANTAUSATU.id - Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri, memburu kelompok teroris dan para penyandang dananya hingga ke Kota Malang. Seorang manajer sebuah lembaga zakat, turut diringkus.

Manajer lembaga zata berinisial CA (41) tersebut, ditangkap saat hendak ke masjid di dekat rumahnya untuk salat dhuhur berjamaah. Selain itu, rumah kontrakan yang ditempati CA bersama istrinya LF (38) dan tiga anaknya, turut digeledah.

Rumah kontrakan yang juga dijadikan sebagai toko peralatan rumah tangga, serta pernak-pernik mainan anak-anak di Jalan Joyoutomo RT 4 RW 4 Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tersebut, telah ditempati keluarga itu sekitar tujuh tahun.

Salah seorang tetangga rumah kontrakan CA, Cokro mengaku, sempat ada polisi yang datang ke rumahnya untuk menanyakan rumah kontrakan CA. "Mereka (polisi) datang hanya untuk memastikan rumah kontrakan CA," tuturnya.

Setelah itu datang polisi dalam jumlah banyak, dan mereka langsung masuk ke dalam rumah kontrakan tersebut. "Datangnya polisi beramai-ramai, saat saya tanya polisi itu menjawab ada lamaran. Ternyata ada penangkapan. Saya tidak tahu penangkapannya di mana," ungkapnya.

Sementara Ketua RT 4 RW 4 Kelurahan Merjosari, Hariono (61) memastikan ada penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88 Anti Teror terhadap CA. "Informasinya, penangkapan dilakukan di dekat masjid saat yang bersangkutan bersama putranya hendak ke masjid menjelang salat dhuhur," tuturnya.

Dia sendiri tidak tahu persis proses penangkapannya , hanya diberi tahu sejumlah warga kalau ada penangkapan. Kemudian dia diminta oleh kelurahan untuk ke rumah kontrakan CA, karena ada proses penggeledahan dan diminta untuk menjadi saksi.

Dari penggeledahan yang dilakukan, polisi membawa dua unit laptop dan tiga buah kartu identitas CA sebagai manajer sebuah lembaga zakat. Harino menyebut, selama empat bulan terakhir CA memang dikenal sebagai manajer lembaga zakat tersebut.

"Dia tinggal di rumah kontrakan itu bersama keluarganya sudah tujuh tahun ini. Mereka berasal dari Jombang. Anaknya ada enam, satu meninggal dunia karena kecelakaan. Sementara anak pertama dan kedua berada di pondok pesantren di Solo ," terangnya.

Pada awal tinggal di rumah kontrakan tersebut, CA dan LF hanya menjalankan usaha menjual pernak-pernik permainan anak, aksesoris, serta sejumlah peralatan rumah tangga. Baru empat bulan terakhir CA menjadi manajer lembaga zakat tersebut, dan rutin menaruh kotak amal di toko-toko yang ada di sekitar rumahnya.

Salah satu toko yang dipasang kotak amal oleh CA adalah toko milik adik Hariono yang ada di Jalan Joyoutomo. Setiap bulan ada petugas yang menarik kotak amal tersebut, dan pemilik tokonya selalu diberi kuitansi bukti pengambilan uang zakat, serta diberi tabloid dari lembaga zakat tersebut.

"Cerita adik saya, setiap bulannya kotak amal yang diambil uangnya berisi sekitar Rp20 ribu-25 ribu. Adik saya juga sempat bertanya kepada petugas yang mengambil, katanya di sekitar kawasan ini saja ada 600-an kotak amal yang dipasang," ungkapnya.

Setelah empat bulan menarik kotak amal, kini kotak amal tersebut diberi nama lembaga lain, atas nama sebuah yayasan. Namun, petugas yang mengambil isi uang dalam kotak-kotak amal tersebut masih tetap sama.

Hariono juga menceritakan, dirinya diminta oleh polisi yang melakukan penggeledahan untuk menandatangani berita acara pemeriksaan. Saat proses penggeledahan, Hariono melihat LF begitu tenang menghadapi polisi.

Selama tinggal di RT 4, CA dan LF diakui Hariono tidak eksklusif meskipun tampilannya sangat mencolok , yakni mengenakan celana cingkrang dan penutup kepala yang tebal. "Dia juga sering salat berjamaah. Sekitar 2-3 tahun lalu memang sering kumpulannya datang ke rumah kontrakan tersebut, tetap setelah itu sudah tidak pernah lagi," ungkapnya.

Saat dikonfirmasi, Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol. Gatot Repli Handoko mengakui ada sejumlah penangkapan terhadap terduga anggota kelompok teroris di wilayah Jatim, yang dilakukan oleh Tim Densus 88 Anti Teror.

"Menurut data yang kami terima, di wilayah Jatim, dan Jateng, ada enam orang yang ditangkap. Mereka berasal di Lamongan, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Jombang, dan Malang. Khusus yang dari Jombang, ditangkapnya di Malang, sedangkan yang warga asal Malang, ditangkap di Karanganyar, Jateng," terangnya.

Pengamat terorisme dari FISIP Universitas Brawijaya (UB) Malang, Yusli Effendi menyebutkan, pandemi COVID-19 berdampak besar terhadap gerakan dan penggalangan dana yang dilakukan kelompok teroris.

"Pandemi COVID-19 membuat ruang gerak mereka menjadi sangat terbatas, dan dana yang terkumpul juga sangat terbatas. Mungkin juga akibat jamaahnya mengalami kesulitan ekonomi. Kondisi ini membuat mereka memakai cara-cara lain untuk menggali dana, termasuk melalui penggalangan kotak amal. Yang perlu dicermati aliran dananya bermuara ke mana, sehingga dapat diketahui kelompok gerakannya," terangnya.

Corak gerakannya, menurutnya juga perlu dicermati. Anggota dari Jamaah Anshor Daullah (JAD) , karena pola gerakannya bisa merekrut banyak orang asal bersimpati dengan gerakan yang dibangun. "Selain itu, mereka juga tidak terlalu terlatih dan sering melakukan serangan yang bersifat kecil," terangnya. (sindo

Pantausatu
Media mencerahkan juga mencerdaskan

Berita lainnya

Post a Comment