Relawan Jokowi Sebut AHY dan Ibas Manfaatkan Covid-19 Untuk Menaikan Elektabilitas, “Ini Pola Lama Demokrat yang Diaransemen”

Post a Comment


PANTAUSATU.id - Ketua Umum (Ketum) Jokowi Mania (Joman) Emmanuel Ebenezer menanggapi pernyataan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas.

Di mana, kakak beradik itu menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak berdaya menghadapi pandemi Covid-19.

Menurut pria akrab dipanggil Noel itu, AHY dan Ibas sedang mencari panggung politik untuk menaikkan popularitas Demokrat dengan memanfaatkan Covid-19.

“Itu mencari panggung politik kemudian mereka memanfaatkan Covid-19 menaikan elektabilitas partainya Demokrat,” kata Noel di Jakarta, Kamis (8/7/2021).

“Lagu lama tapi diaransemen ulang. Ini kan pola lama yang terus menerus yang dimainkan Demokrat,” sambungnya.

Seperti saat Kongres Luar Biasa (KLB), Demokrat menuduh Presiden Jokowi terlibat dalam penggulingan AHY sebagai Ketum Partai.

“Tapi nyatanya Presiden terbukti tidak terlibat, hasilnya versi lembaga survey bayaran mereka, katanya rating Demokrat naik,” ucap Noel.

Mantan aktivis 98 itu juga melihat, AHY dan Ibas akan terus bersuara mengkritik pemerintah untuk menaikkan elektabilitasnya.

“Sayang, keduanya tidak dibekali kualitas tim litbang dan komunikasi yang baik. Sehingga analisa keduanya banyak ngawur. Data yang dipakai tidak kualitatif,” tandas Noel.

Sebelumnya, Ibas menyatakan bahwa pemerintah terlihat tidak berdaya dalam menghadapi pandemi virus corona (Covid-19).

Terutama ketika terjadi lonjakan kasus beberapa pekan terakhir.

Menurutnya, kelangkaan tabung oksigen yang tengah terjadi saat ini menunjukkan bahwa pemerintah lemah dalam mengambil langkah-langkah antisipasi.

“Pemerintah terlihat tidak berdaya menangani pandemi sudah memasuki tahun kedua. Kurangnya tabung oksigen, misalnya, menunjukkan antisipasi lemah dari pemerintah,” kata Ibas dalam keterangannya, Rabu (7/7).

Ia pun mengaku heran dengan kelangkaan tabung oksigen yang terjadi saat ini.

Pasalnya, pemerintah menyumbangkan tabung oksigen ke negara lain beberapa waktu lalu.

“Bagaimana mungkin tabung oksigen disumbangkan ke negara lain, tapi saat rakyat sendiri membutuhkan, barangnya susah didapat,” kata Ibas.

Ibas pun menyampaikan bahwa kelangkaan tabung oksigen yang terjadi ini merupakan sebuah preseden buruk.

Menurutnya, hal ini memperlihatkan bahwa pemerintah seolah-olah kurang sigap menyiapkan kebutuhan untuk menjawab gejala-gejala yang muncul sebelumnya. (muf/pojoksatu)

Pantausatu
Media mencerahkan juga mencerdaskan

Berita lainnya

Post a Comment