Puji Keberanian Jokowi Pilih Kapolri, Ade Armando: SBY Dulu Takut Islam Radikal

Post a comment
Ade Armando dan SBY (foto kolase)

PANTAUSATU.id - Keputusan Presiden Jokowi yang memilih Komjen Listyo Sigit sebagai Kapolri dianggap banyak kalangan sebagai langkah Presiden yang memusuhi Islam. Hal itu lantaran Komjen Listyo beragama Katolik.

Isu Jokowi Anti-Islam memang banyak digulirkan berbagai kalangan, apalagi sejak pemerintah Rezim Jokowi membubarkan HTI, FPI, hingga menangkap Habib Rizieq Shihab.

Terkait hal ini, Dosen Universitas Indonesia Ade Armando pun melemparkan pandangannya. Ade malah merasa salut dengan keputusan Jokowi mengangkat Kapolri beragama Katolik.

Menurut Ade, itu justru pertanda jika Presiden Jokowi tak mau tersandera pada kelompok Islam radikal.

“Inilah letak kehebatan Jokowi, dia tak takut. Ini memang berisiko, namun ini terbaik, negara tak boleh tersandera oleh kelompok radikal,” ungkap Ade Armando seperti dikutip dari saluran Youtube Cokro TV, Senin 19 Januari 2021.

Menurut Ade Armando, penunjukkan Komjen Listyo Sigit sebagai Kapolri sebenarnya adalah kabar baik bagi Indonesia yang sedang diancam oleh kaum Islam radikalis yang sedang berusaha memecah belah bangsa.

Di satu sisi, Ade sendiri percaya bahwa Sigit adalah seorang polisi yang cakap dan berintegritas. Akan tetapi, dia mengakui, di sisi lain, di Indonesia, seseorang yang memiliki keunggulan kualitas tidak cukup untuk menjadikannya untuk dipilih sebagai pemimpin.

Karena seolah dia diposisikan harus datang dari pemeluk agama Islam. “Buat presiden ini tentu bukan perkara mudah. Bila dia tidak cukup tegas, dia bisa tersandera kelompok-kelompok radikal tersebut. Kita sudah melihat ada banyak pemimpin dan juga wakil rakyat yang takut mengambil keputusan yang mereka khawatirkan akan mengusik perasaan umat Islam konservatif,” ungkap Ade lagi.

Ade: Dulu SBY Takut dengan Islam Radikal

Ade Armando kemudian memberi contoh kasus atas pandangannya tersebut. Menurut Ade, ada salah satu kesalahan Presiden SBY, yang membuat kaum Islam radikal kian berkembang.

Menurut Ade, SBY dianggap tidak berani mengambil risiko kehilangan popularitas di mata kaum Islamis. Bagi Ade, di kepala SBY mungkin ada imajinasi bahwa kaum Islam radikal berjumlah besar dan mereka punya kemampuan menggerakkan kaum muslim di Tanah Air.

“Merekalah yang sangat ditakuti dulu oleh SBY. SBY bukan Islamis, bahkan kesannya sekuler, tapi ketika memimpin dia tak pernah tegas menghabisi Islam radikal. Akhirnya dia jadi tersandera oleh imajinasi dia, sikap yang merugikan secara politik. Begitu juga dengan parpol,” kata Ade lagi.

Kaum Islamis radikal yang dia maksud bukan umat Islam secara keseluruhan. Kaum Islamis radikal yang dia maksud adalah kaum muslim yang percaya bahwa Indonesia harus menjadi negara Islam atau menjadi negara yang dikuasai penguasa Islam.

Apa yang ditakutkan SBY, sebenarnya dianggap sudah menggejala juga di partai-partai politik besar di negeri ini. Mereka bahkan juga takut akan kelompok Islam radikalis.

Karuan saja, proses Islamisasi terus meluas melalui makin meluasnya Perda-perda syariah. Di mana itu turut dilakukan termasuk oleh Parpol nasionalis, seperti PDIP, Golkar, Gerindra, dan sebagainya, hingga kepala daerah.

Maka itu, dengan penunjukkan Kapolri Komjen Sigit, Ade merasa Jokowi merupakan sosok yang sangat berani menentang arus.

Semua, kata dia, justru demi kemaslahatan. Sebab pemimpin baginya tak diukur dari apa agamanya, namun seperti apa kemampuannya memimpin dan menyelamatkan negeri ini.

“Inilah letak kehebatan Jokowi, dia tak takut, termasuk kehilangan popularitas,” kata dia. (tkn/ps) 

Pantausatu
Media mencerahkan juga mencerdaskan

Berita lainnya

Post a comment