Israel Buka Kedutaan Pertama di Uni Emirat Arab

Post a Comment
Kiri ke kanan: Penasihat Israel Meir Ben-Shabbat, Penasihat AS Jared Kushner, dan Penasihat UEA Tahnoun bin Zayed Al Nahyan(WAM via REUTERS)

PANTAUSATU.id - Israel mengumumkan pembukaan Kedutaan Besar di Uni Emirat Arab pada Minggu (24/1/2021), 4 bulan lebih dari penandatanganan Abraham Accord yang menormalisasi hubungan Negara Yahudi dengan Monarki di Semenanjung Arab itu. 

Melansir Voice of America, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan.  

"Kedutaan Israel di Abu Dhabi telah resmi dibuka hari ini dengan kedatangan diplomat Eitan Na'eh."  

Keterangan itu juga menambahkan bahwa delegasi dari Israel itu akan bekerja ke depannya untuk menguatkan hubungan antar Israel- UEA. 

Kedutaan Israel yang bertempat di kantor sementara akan mendorong spektrum penuh akan hubungan kedua negara, ungkap Otoritas Israel. 

Kepala diplomasi Israel Gabi Ashkenazi mengatakan bahwa pembukaan kedutaan itu akan melengkapi dan meningkatkan perkembangan hubungan yang potensial antara Israel-UEA. 

Sejauh ini, Israel telah menormalisasi hubungan dengan 4 negara Arab; UEA, Bahrain, Sudan, Maroko di bawah dukungan mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. 

Pemerintah Israel secara resmi menyetujui kesepakatan dengan Maroko pada Minggu, walau masih harus mendapatkan "lampu hijau" dari para deputi. 

Usai serangkaian normalisasi dilakukan, banyak kesepakatan dagang yang ditandatangani antara Israel dengan UEA. 

Mulai dari bidang pertanian, pangan, pariwisata dan sektor teknologi tinggi. 

Anak perusahaan Israel dari raksasa Perancis EDF baru-baru ini juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan UEA di bidang energi terbarukan yang bertujuan menjadikan negara Yahudi itu pemimpin dunia dalam energi surya. 

Diplomat Israel pertama yang secara resmi ditempatkan di Emirat, Na'eh telah ditugaskan beberapa tahun lalu sebagai delegasi Israel di Turki sebelum diusir saat terjadi krisis pada Mei 2018 terkait kekerasan di Gaza, wilayah Palestina di bawah blokade Israel. 

Sekitar 60 warga Palestina dibunuh oleh tentara Israel selama protes di Gaza pada 14 Mei 2018, kekerasan yang dikecam oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang khususnya menuduh Israel telah melakukan genosida. 

Para pengunjuk rasa memprotes pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem dari Tel Aviv, sebuah langkah yang dilakukan oleh pemerintahan Trump yang melanggar konsensus internasional selama beberapa dekade. 

Pada Minggu, Uni Emirat Arab juga menyetujui penempatan kedutaan pertamanya di Tel Aviv, di mana mayoritas perwakilan diplomatik ada di sana karena mereka tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. 

Sebelum Emirat, Mesir, dan Yordania telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel ketika mereka menandatangani, masing-masing pada 1979 dan 1994, perjanjian damai yang mengakhiri perang antara mereka. (kom/ps)


Pantausatu
Media mencerahkan juga mencerdaskan

Berita lainnya

Post a Comment