Banjir Kalsel, Apkasindo Sebut LSM Jangan Salahkan Pemerintah dan Sawit, Ini Respon Menohoknya

Post a comment
Ketua DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Gulat Medali

PANTAUSATU.id - Banjir merendam sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel). Aktivis lingkungan menilai banjir parah di Kalsel salah satunya disebabkan izin kebun kelapa sawit. Petani sawit pun angkat bicara.

Ketua DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Medali Emas Manurung menyayangkan pihakyang menyalahkan pemerintah dan sektor pertanian terkait banjir tersebut.

"Kita menyayangkan suara-suara sumbang tentang bencana alam yang dialami oleh saudara-saudara kita di Kalimantan Selatan termasuk Sulawesi Barat. Seharusnya empati dan solusi, bukan malah meributkan ini dan itu, apalagi menyudutkan sawit sebagai salah satu penyebabnya, seperti yang disampaikan NGO (LSM Lingkungan)," kata Gulat di Pekanbaru Rabu (20/1/2021).

Menurutnya, tudingan kebun sawit sebagai penyebab banjir adalah hal yang tidak berdasar. Kalau sawit menjadi penyebab banjir, tentunya dia menyoroti banjir di Jakarta.

"Saya balik bertanya, apakah di Jakarta ada tanaman kelapa sawit ?, kan Jakarta salah satu langganan banjir nasional. Atau di Manado yang sedang tertimpa bencana banjir, di Manado tidak ada sawit," tukasnya.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, di Kalimantan Selatan luas perkebunan kelapa sawit 549 ribu hektar atau sekitar 3,36% dari total luas sawit Indonesia.

"Sementara di Riau sudah mencapai 4,02 juta hektar (26 persen), tapi di Riau jika musim hujan bukan tidak ada banjir, tapi kita di Riau tidak langsung menyalahkan sawit. Yang diperlukan saat ini adalah bagaimana memperbaiki dan meningkatkan peran dan konsep sawit berkelanjutan (sustainable) apalagi pemerintah sudah menerbitkan Inpres No 6 2019 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) sawit berkelanjutan," tandasnya.

Gulat menyatakan petani sawit saat ini mengelola 41 persen sawit di Indonesia tertantang dengan konsep RAN sawit berkelanjutan. Dia menegaskan, bahwa petani berusaha untuk bisa mengikuti Konsep RAN.

"Niat Petani sawit ini harus dihormati oleh semua pihak, meskipun kami harus menempuh jalan panjang untuk menuju ke sana," jelasnya.

Dirinya heran mengapa pada pemberitaan sebelumnya LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) justru sudah menyimpulkan bahwa penyebab banjir adalah perkebunan, dengan indikator area perkebunan meluas cukup signifikan 219.000 hektare pada sepuluh tahun terakhir di Kalimantan Selatan.

"Kalaulah benar ini peryantaan resmi dari LAPAN. Ini sudah melampaui wewenang LAPAN karena LAPAN tidak mengurusi masalah lingkungan. Harusnya LAPAN cukup melakukan tugas nya tidak ikut mengompori dengan menyudutkan perkebunan sebagai biang dari banjir," imbuhnya.

Senada, Samsul Bahri, Ketua Apkasindo Kalimantan Selatan menilai tudingan LSM lingkungan tidak berdasar. "Bencana seperti ini, kita harus saling membantu sesama. Bukannya cari kambing hitam dan saling menuduh seperti LSM lakukan. Kami petani, walaupun korban juga membantu warga lain. Mereka sudah lakukan apa," tuturnya. (sdo/ps)
Pantausatu
Media mencerahkan juga mencerdaskan

Berita lainnya

Post a comment