Yandri Susanto PAN ke Menag Fachrul Razi Soal Radikalisme 'Good Looking': Saya Tersinggung Sekali, Pak

Post a comment
Ketua DPP PAN Yandri Susanto bersama calon ketua DPW PAN Banten Syafrudin


PANTAUSATU.ID
- Ketua Komisi Bidang Agama DPR RI Yandri Susanto mengkritik Menteri Agama Fachrul Razi mengenai pernyataannya terkait penetrasi radikalisme lewat sosok 'good looking' dan hafiz Quran yang menuai polemik.

Walaupun demikian, Fachrul menuturkan hal itu terkait dengan cara masuk intelijen.

Yandri menilai pernyataan tersebut sangat tidak bijaksana dilontarkan oleh seorang Menteri Agama. Ia mendapatkan banyak laporan dari pengasuh pondok pesantren dan ulama yang memprotes ucapannya tersebut.

"Banyak sekali ulama yang hubungi kami, pondok pesantren yang mencetak Al-Qur'an termasuk Ponpes kami, termasuk keluarga saya banyak yang hafal Al-Qur'an. Saya tersinggung sekali, Pak," kata Yandri dalam rapat kerja dengan Menteri Agama di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9).

Yandri menilai pernyataan tersebut seolah-olah menarasikan orang yang menguasai agama Islam dan hafal Al-Qur'an sebagai orang yang radikal. 

"Saya sendiri sarankan anak-anak saya bisa Bahasa Arab dan hafal Al-Qur'an. Kalau pemerintah menuduh radikal, enggak bisa, Pak," kata Yandri.

Menag angkat suara

Menjawab hal itu, Fachrul Razi menyinggung cara kerja intelijen yang kerap memasukkan orang-orang berpenampilan menarik serta memiliki pengetahuan luas dalam melancarkan operasinya.

"Itu cara masuk dalam intelijen, kan kita pikir gitu. Mungkin dalam intelijen internasional menyusupkan orang-orang intelijen kan memasukkan orang-orang good looking, pengetahuan luas ke dalam community tertentu," kata Fachrul pada kesempatan yang sama.

Fachrul lantas membandingkan operasi intelijen tersebut dengan peristiwa disusupkannya intelektual Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje di Aceh pada zaman penjajahan Belanda dahulu kala.

Hurgronje merupakan orang Belanda yang mampu menaklukkan Aceh berkat keuletan sekaligus kelicikannya dalam memecah-belah masyarakat di Serambi Mekah.

Ia menyatakan pemerintah Belanda saat itu cerdik memilih Hurgronje untuk memecah belah masyarakat Aceh. Sebab, kata dia, Hurgronje sendiri dipilih karena memiliki pemahaman Islam yang baik sehingga bisa mengadu domba masyarakat Aceh.

"Jadi kalau anak-anak good looking, pengetahuan agamanya bagus itu yang kita butuhkan sebetulnya. Tapi harus kita cek dulu," kata Fachrul.

Melihat persoalan tersebut, Fachrul meminta agar pengurus masjid mengecek mengenai latar belakang dan akun-akun media sosial orang-orang yang kerap dilibatkan dalam mengisi ceramah maupun imam jemaah. Hal itu bertujuan agar orang tersebut tak menyebarkan radikalisme bagi para jemaah.

Ia menyatakan bila orang tersebut dirasa tak memiliki paham radikal, maka tak ada persoalan bagi pengurus masjid membolehkan orang tersebut mengisi ceramah maupun menjadi imam.

"Boleh aja dia good looking, hafiz Quran. Justru itu yang kita inginkan. Tapi, kita cek dulu akunnya. Dia punya akun enggak. Oh, akunnya klir [dari pemahaman radikal]. Ini yang kita butuhkan," kata Fachrul.

Di sisi lain, Fachrul mengaku tidak tahu bila pernyataannya yang diungkapkan pada acara webinar Kementerian PAN-RB itu bersifat terbuka bagi publik. Awalnya, Fachrul menyangka acara itu hanya digelar khusus untuk internal aparatur sipil negara (ASN) KemenPAN-RB.

"Perlu saya garis bawahi. Saya mohon maaf tidak tahu bahwa itu menjadi persoalan publik. Saya kira itu internal ASN. Kalau bicara tantang publik pasti saya akan bicara tentang bahasa yang berbeda meskipun substansinya sama," kata Fachrul. (cnn/ps)  

Reactions:
Pantausatu
Media mencerahkan juga mencerdaskan

Related Posts

Post a comment