Pertamina Salahkan Corona Bikin Rugi Rp11 T

Gedung Pertamina


PANTAUSATU.ID
- PT Pertamina (Persero) menyatakan kerugian mencapai US$767,91 juta atau setara Rp11,13 triliun (kurs Rp14.500 per dolar AS) pada semester I 2020 terjadi karena tekanan ekonomi pandemi virus corona atau covid-19. Hal ini memicu penurunan penjualan, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga rendahnya harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oils Price/ICP).

"Ada tiga shock yang sangat signifikan menghantam cash flow," ungkap Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini saat rapat dengan Komisi VII DPR, Senin (31/8).

Pertama, dampak pandemi covid-19 membuat tingkat penjualan BUMN itu turun dalam. Hal ini tak lepas dari anjloknya permintaan dari pasar internasional.

"Ini yang membuat kami terdampak, khususnya di kuartal II," ucapnya.

Kendati begitu, Emma mengatakan sebenarnya ada perbaikan penjualan sekitar 7 persen pada Mei ke Juni. Begitu juga pada Juni ke Juli dengan pertumbuhan yang sama.

Namun kondisi ini belum bisa menutup kontraksi pada Januari-April.

Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah. Seperti diketahui, dampak pandemi covid-19 juga menekan kurs mata uang Garuda terhadap dolar AS.

Rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp13.900 per Desember 2019 perlahan-lahan terus anjlok hingga sempat menyentuh level Rp16.700 per dolar AS pada Maret 2020.

"Kurs sangat fluktuatif dan kami sangat terdampak sekali karena buku kita dalam dolar AS, sementara revenue dalam rupiah. Jadi semakin ter-hit, dari revenue turun dan ada selisih kurs yang sangat tajam," terangnya.

Ketiga, pelemahan ICP. Hal ini membuat perusahaan pelat merah itu sempat kesulitan arus kas karena beban operasional untuk penyimpanan pasokan minyak tetap besar. Namun, penerimaan turun dari sisi permintaan dan harga.

"Secara pembukuan, harga pokoknya masih mahal tetapi harga jualnya sudah rendah karena mengikuti ICP terkini," tuturnya.

Diketahui, Pertamina membukukan kerugian bersih hingga US$767,91 juta atau Rp11,3 triliun (kurs Rp14.500 per dolar AS) sepanjang semester I 2020. Realisasi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu, di mana perusahaan masih untung US$659,95 juta atau Rp9,56 triliun.

Kerugian Pertamina disebabkan oleh pendapatan perusahaan yang turun 24,71 persen dari US$25,54 miliar menjadi US$20,48 miliar.

Penurunan penjualan dan pendapatan disumbang oleh penurunan penjualan minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi, dan produk minyak dalam negeri dari US$20,94 miliar menjadi US$16,56 miliar. Perusahaan energi pelat merah itu juga mengalami penurunan pendapatan dari aktivitas operasi lainnya dari US$497,23 juta menjadi US$424,80 juta.

Selain itu, penggantian biaya subsidi dari pemerintah juga turun dari US$2,5 miliar menjadi US$1,73 miliar. Tahun ini, Pertamina tidak mendapatkan imbalan jasa pemasaran, padahal tahun lalu berhasil mengantongi US$6,42 juta.

Namun, penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi, dan produk minyak berhasil naik dari US$1,6 miliar menjadi US$1,76 miliar. Selain itu, Pertamina juga mengalami kerugian selisih kurs sebesar US$211,83 juta. (din)


Sumber: cnnindonesia 

REKOMENDASI

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel