Rektor Al-Azhar Indonesia Sebut Pendekatan Militer di Kampus Tak Relevan

Rektor UAI, Asep Saefudin mengatakan pendidikan berbasis pendekatan milisteristik dan ketahanan negara untuk para mahasiswa sudah tak terlalu relevan. Ilustrasi (CNNIndonesia)


PANTAUSATU.ID - Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Asep Saefudin mengatakan pendidikan berbasis pendekatan militeristik dan ketahanan negara untuk para mahasiswa sudah tidak terlalu relevan.

Kementerian Pertahanan bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana membawa pendidikan militer ke kampus dengan program bela negara.

"Sekarang ini kan ada perubahan zaman, yang pendekatan militeristik, yang terlalu berbasis pada ketahanan militer saya melihat tidak terlalu relevan," kata Asep, Rabu (19/8).

Asep mengatakan pendidikan militer untuk mahasiswa pernah diterapkan sebelum reformasi dengan mata kuliah Pendidikan Kewiraan. Namun pada 1980-an, mata kuliah tersebut dimodifikasi sesuai perkembangan zaman.

Berkaca pada situasi itu, Asep khawatir program bela negara di kampus seolah membawa mahasiswa ke masa lalu. Padahal ia menilai perkembangan zaman saat ini tak lagi berhadapan dengan perang secara fisik.

"Sifatnya yang perang di lapangan itu kan terjadi di awal kemerdekaan. Tapi sekarang ini perang teknologi. Jadi pendekatan kedisiplinan negaranya tidak berarti ditolak, tapi polanya harus disesuaikan dengan perubahan zaman," ujarnya.

Asep mengatakan mayoritas pendidikan tinggi sebenarnya sudah memiliki mata kuliah pendidikan kewarganegaraan, namun implementasinya kerap kali terabaikan karena hanya berupa hafalan.

Alih-alih memberikan pelatihan fisik, Asep meminta program bela negara lebih baik menargetkan pendidikan kewarganegaraan dan ketahanan negara di sektor lain, seperti pangan atau energi.

Respons Mahasiswa

Aloysius Christian Herdimas atau Dimas, mahasiswa semester lima di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta mengatakan tak tertarik mengikuti pendidikan militer jika benar-benara diterapkan. Ia menilai pendidikan militer tak relevan di kampus.

"Soalnya menurutku aku kuliah goal-nya bukan untuk jadi perwira gitu," kata Dimas.

Ia mengaku sempat mengikuti pendidikan serupa di sekolah semi-militer ketika Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia sendiri tak menyangkal pelatihan dan pendidikan semi-militer membawa dampak positif.

"Aku SMA itu boarding school juga. Jadi benar-benar semuanya aku yang kerjain. Jadi lebih mandiri. Terus juga lebih disiplin," ujarnya.

Menurut Dimas, belajar di sekolah semi-militer jauh berbeda dengan sekolah biasa. Di sekolah semi-militer, hampir setiap hari ia dituntut mengikuti pelatihan fisik. Pengalaman ini membiasakan dirinya lebih disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

Kendati tak tertarik dengan pendidikan militer, Dimas menilai kesempatan menjadi perwira cadangan bisa jadi diminati mahasiswa lain sebagai pilihan peluang kerja di masa depan.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan menjajaki kerja sama dengan Kemendikbud untuk menerapkan pendidikan militer kepada mahasiswa selama satu semester.

Wakil Menteri Pertahanan Wahyu Sakti Trenggono meluruskan program yang pihaknya rancang bukan pendidikan militer melainkan bagian dari program bela negara. Ia menyebut program tersebut diselaraskan dengan program merdeka belajar.

"Bukan militer tapi latihan bela negara. Tapi Seolah mirip militer, tapi bukan. Itu latihan disiplin ketangkasan dan sebagainya itu," kata Trenggono.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam mengatakan konsep program ini akan serupa kampus merdeka, di mana mahasiswa bisa memilih kegiatan di luar kelas minimal satu semester. Mahasiswa yang ikut program ini nantinya bisa menjadi perwira cadangan.

"Kalau memenuhi syarat, saat lulus selain mendapat kesarjanaan juga dapat menjadi perwira cadangan," ujarnya. (din)


Sumber: cnnindonesia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel