Prancis Ingatkan Iran Tak Campuri Urusan Libanon Usai Ledakan

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi Beirut, Libanon usai ledakan dahsyat. (AP)


PANTAUSATU.ID - Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan Iran agar tidak ikut campur urusan Libanon ketika negara itu sedang membangun kembali setelah ledakan dahsyat melanda Beirut pekan lalu dan memicu krisis politik, Rabu (12/8).

Dilansir dari AFP, dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Hassan Rouhani, Macron menekankan perlunya semua kekuatan terkait untuk menghindari campur tangan pihak luar dan untuk mendukung pemerintah mengelola keadaan darurat.

Macron merupakan pemimpin dunia pertama yang mengunjungi Beirut setelah ledakan. Dia telah mengambil peran utama dalam mengkoordinasikan tanggapan internasional dan pada akhir pekan memimpin konferensi bantuan virtual yang menghasilkan lebih dari USD$295 juta atau sekitar Rp4,37 triliun dalam bentuk janji (pledges).

Dia berusaha memainkan peran utama untuk berupaya mempertahankan kesepakatan 2015 oleh kekuatan dunia tentang program nuklir Iran, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2018 keluar dari kesepakatan tersebut.

Macron mengatakan kepada Rouhani bahwa dia ingin "melestarikan kerangka" kesepakatan itu dan bekerja untuk meredakan ketegangan di wilayah itu.

"Dalam hal ini, dia (Macron) meminta Iran mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghindari peningkatan ketegangan," ujar pihak Elysee, kediaman resmi Presiden Prancis.

Iran memiliki pengaruh besar di Libanon melalui kelompok Syiah Hizbullah yang sangat terwakili di pemerintahan sebelumnya dan memiliki aliansi dengan faksi Presiden Michel Aoun.

Pembicaraan mereka terjadi ketika Dewan Keamanan PBB dalam beberapa hari mendatang dilaporkan akan menolak resolusi AS untuk memperpanjang embargo senjata PBB terhadap Iran karena bertentangan dengan China dan Rusia yang memiliki hak veto.

Pemerintah Libanon di bawah Perdana Menteri Hassan Diab mengundurkan diri pekan ini setelah demonstrasi yang berlangsung beberapa hari menuntut pertanggungjawaban atas ledakan di pelabuhan Beirut pekan lalu yang menghancurkan seluruh kota.

Ledakan pada 4 Agustus yang menewaskan 171 orang itu berasal dari persediaan amonium nitrat yang sangat besar dan dibiarkan ditimbun selama bertahun-tahun di pelabuhan meski telah berulang kali diperingatkan. (ps)


Sumber: cnnindonesia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel