KAMI dan Barisan Para Mantan di Gerbong Pengkritik Jokowi

Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di Tugu Proklamasi Jakarta, Selasa (18/8). (CNN Indonesia)


PANTAUSATU.ID - Sejumlah tokoh publik berkumpul di bawah tenda besar yang dibangun di tengah Lapangan Tugu Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/8) pagi. Sejenis tali berwarna khas bendera Indonesia, merah putih dikalungkan di lehernya masing-masing sebagai identitas.

Tokoh-tokoh tersebut lantas melangkahkan kakinya ke arah podium Tugu Proklamasi. Mereka berbaris berjejer, saling merapatkan barisanuntuk kemudian mendeklarasikan terbentuknya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Para tokoh publik deklarator KAMI itu antara lain Achmad Yani, Rocky Gerung, Din Syamsuddin, Gatot Nurmantyo, Rochmad Wahab, Meutia Farida Hatta, MS Kaban, Said Didu, Refly Harun. Lalu terdapat nama Ichsanuddin Noorsy, Lieus Sungkharisma, dan Jumhur Hidayat, Abdullah Hehamahua, hingga Amien Rais.

KAMI adalah wadah oposisi ekstra parlementer. Achmad Yani membacakan bahwa KAMI memiliki 'Jati Diri' yang terdiri dari 10 poin. 

Jati Diri tersebut di antaranya memuat tentang KAMI sebagai gerakan moral rakyat, bergerak untuk melakukan pengawasan sosial, kritik, koreksi, dan meluruskan kiblat negara dari penyimpangan dan penyelewengan.

Deklarasi KAMI disambut antusias massa yang hadir di Tugu Proklamasi. Pandemi Covid-19 tak menyurutkan langkah warga menjadi saksi kelahiran wadah oposisi baru tersebut. 

Sementara peneliti politik dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai KAMI bisa mengubah wajah oposisi ekstra parlementer di Indonesia.

Menurut Wasis, selama ini tokoh-tokoh yang tergabung dalam KAMI mengkritik jalannya pemerintahan Jokowi secara personal. Kini, dengan terbentuknya KAMI, kritik para tokoh-tokoh tersebut kepada pemerintahan Jokowi akan lebih lantang dan terkonsolidasi dengan baik.

"Karena mereka kini sudah menjadi gerakan kolektif, mungkin mereka akan lebih solid dalam mengkritik," kata Wasisto, Selasa (18/8).

Keberadaan KAMI disebut bisa jadi sandaran para pengkritik. KAMI dapat jadi benteng atas risiko-risiko yang mungkin dihadapi ketika para tokoh itu melontar kritik. 

KAMI juga punya potensi untuk memobilisasi massa. Namun itu baru sebatas potensi. KAMI belum tentu bisa memanfaatkan potensi tersebut karena dianggap terlalu elitis.

Menurut Wasisto, elitisme KAMI tecermin dari figur-figurnya, yang mayoritas adalah tokoh yang pernah berada dalam lingkar kekuasaan.

Sebut saja nama Gatot Nurmantyo merupakan mantan Panglima TNI periode 2015-2017. Sementara Din Syamsuddin pernah diangkat oleh Presiden Jokowi sebagai utusan khusus Presiden untuk dialog dan kerjasama antar agama pada tahun 2017 lalu.

Tantangan lain KAMI adalah bagaimana membungkus isu yang mewakili aspirasi semua elemen masyarakat. Tanpa itu, KAMI sulit memobilisasi massa dalam gerakan mereka. 

"Karena isu dan era sekarang membuat orang-orang lebih nyaman di grup sosial masing-masing," kata Wasisto.

KAMI juga dinilai terlalu idealis. Platform KAMI, yakni 'Menyelamatkan Indonesia' ibarat pahlawan yang harus hadir di tengah situasi negara sedang kesusahan.

"Saya pikir ini seperti romantisasi Ratu Adil yang bisa membawa situasi jadi baik," kata Wasisto. (din)


Sumber: cnnindonesia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel