Gedung Kejagung Kebakaran, Api Berawal dari Lantai Ini

Api membakar gedung Kejaksaan Agung di Jakarta, Sabtu (22/8/2020). (ANTARA FOTO)


PANTAUSATU.ID - Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) mengalami kebakaran hebat pada, Sabtu malam (22/8). Menurut informasi awal, kebakaran terjadi sekitar pukul 19.15 WIB.

Kapuspenkum Kejagung RI, Hari Setiyono, mengatakan, titik kebakaran berasal dari lantai 6 sayap kanan gedung utama, yang merupakan Biro Kepegawaian. "Bahwa gedung yang terbakar merupakan gedung utama tempat berkantornya Bapak Jaksa Agung beserta Wakil Jaksa Agung," katanya.

Tidak lama, api menjalar ke lantai 5 hingga lantai 1. Lantai 5 masih merupakan bagian dari Bidang Pembinaan sedangkan lantai 4 dan 3 merupakan Bidang Intelijen. Sedangkan untuk lantai 2 merupakan ruang kerja Jaksa Agung dan Wakil Jaksa Agung, serta lantai 1 merupakan aula.

Banyak yang mengkhawatirkan bahwa bayak dokumen-dokumen penting perkara besar ada di dalam gedung Kejagung dan ikut terbakar. "Tapi Alhamdulillah, dokumen-dokumen tersebut dalam kondisi aman," ujarnya.

Menurut Hari, dokumen-dokumen tersebut aman karena Bidang Tindak Pidana Khusus dan Tindak Pidana Umum berada di gedung terpisah. "Untuk pidana khusus di gedung bundar yang lokasinya cukup jauh dari gedung utama. Sedangkan Bidang Pidana Umum berada di belakang dekat dengan sisi Jalan Bulungan," tandasnya.

Sementara itu, menurut Pengamat Kebijakan Publik Achmad Nur Hidayat, terdapat banyak berkas perkara penting di dalam Gedung Kejagung RI. Di antaranya yakni kasus Novel Baswedan dan Kasus Korupsi Cessi (Djoko Tjandra).

Mengenai kasus korupsi cessie (hak tagih) Bank Bali dengan terpidana Djoko Tjandra, ada uang senilai Rp546 miliar yang menjadi bukti sitaan Kejaksaan Agung dan dititipkan di rekening escrow account di Bank Permata. Bukti sitaan tersebut menjadi gelap karena ada indikasi bahwa sitaan tersebut dibagi-bagi oleh oknum.

Informasi tersebut diperoleh dari mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar, yang juga pernah menjadi penyidik sekaligus menjadi jaksa penuntut umum dalam kasus tersebut yang mencuat pada 1999.

"Antasari merasa memiliki beban moral karena tidak tuntasnya kasus cessieBank Bali tersebut. Menurutnya kasus korupsi cessie Bank Bali pada tingkat pertama eksekutor putusan pengadilan adalah Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan," katanya.

"Antasari mengatakan, untuk mengetahui apakah bukti sita sudah dieksekusi lengkap dengan berita acaranya, maka kepolisian bisa meminta keterangan kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan yang menjabat saat 2009 tersebut," ujarnya.

Sedangkan dalam kasus Novel Baswedan, publik dikejutkan informasi bahwa jaksa Penuntut Umum yaitu Robertino Fedrik Adhar Syaripuddin meninggal dunia, pada Senin (17/8). Fedrik merupakan salah satu jaksa yang menangani kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan.

Jaksa kasus Novel tersebut, diketahui menuntut pelaku penyiraman air keras dengan hukuman pidana 1 tahun penjara. Tuntutan tersebut lantas menuai kontroversi di masyarakat karena dianggap terlalu ringan.

Namun kemudian, Majelis Hakim memvonis pelaku dengan hukuman 2 tahun penjara. "Meninggal Jaksa Robertino Fedrik tersebut menjadi perbincangan ramai di sosmed, karena meninggalnya masih diduga karena Covid-19," ujarnya.

Tidak heran, jika dengan adanya kebakaran di Kejagung membuat masyarakat bertanya-tanya apa penyebabnya. "Semoga Petugas Pemadam Kebakaran segera bisa memadamkan api yang masih menyala dan semoga petugas keamaan bisa melakukan investigasi yang hasilnya dibuka kepada publik secara transparan sehingga tidak menimbulkan duga-duga di tengah masyarakat," kata Achmad. (din)


Sumber: Gatra 

REKOMENDASI

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel