Eks Menkeu SBY Sebut Perusahaan RI Terancam Jadi 'Zombie', 4 Faktor Ini Penyebabnya

Post a Comment
Chatib Basri. 


PANTAUSATU.ID
- Eks menteri keuangan era Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Chatib Basri, menilai perusahaan-perusahaan di Indonesia bisa menjadi zombie companies atau mayat hidup bila aktivitas ekonomi hanya 50 persen.

Maksudnya, perusahaan dapat bertahan hidup selama mampu membayar biaya, seperti gaji, namun tetap tidak dapat mengantongi keuntungan. "Tidak ada insentif untuk ekspansi dan meningkatkan investasi. Ekonomi akan stuck (macet) atau pemulihan lambat," tulisnya dalam akun Twitter @ChatibBasri, dikutip Senin (31/8).

Hal ini, ia menduga dikarenakan empat faktor. Pertama, daya beli masyarakat lemah. Kedua, perilaku kelas menengah atas yang berhati-hati karena alasan kesehatan. Ketiga, perubahan perilaku, seperti belanja online, dan keempat, protokol kesehatan membuat ekonomi tidak bisa beroperasi 100 persen.

"Akibatnya, skala ekonomis tidak tercapai. Jika ekonomi hanya beroperasi 50 persen, maka banyak sektor tidak mencapai break even point (kondisi dimana pendapatan sama dengan modal yang dikeluarkan atau titik impas," tegas Chatib.

Kekhawatiran Chatib tersebut berdasarkan data dari Google dan Humdata.org yang dipelajarinya. Data Google Mobility menunjukkan setelah pembukaan aktivitas, mobilitas masyarakat naik tajam. Namun, berangsur datar dan melambat.

Data yang diolah Chatib memaparkan sejumlah aktivitas masyarakat sempat tumbuh tinggi pada Juni bertepatan dengan pembukaan ekonomi bertahap dan pelonggaran pembatasan sosial. Lalu, mulai turun pada Juli dan Agustus.

Misalnya, pergerakan masyarakat ke kantor tumbuh 13 persen pada Juni. Kemudian, turun menjadi 1,4 persen pada Juli, bahkan minus 0,2 persen pada Agustus.

Selanjutnya, aktivitas groseri dan farmasi tumbuh 5,9 persen pada Juni. Lalu, turun menjadi 4 persen pada Juli dan 2,8 persen pada Agustus.

Serupa, aktivitas ritel sempat tumbuh dua digit 13,1 persen pada Juni. Lalu, melambat menjadi 7 persen pada Juli dan hanya 3,1 persen pada Agustus.

Begitu pula aktivitas masyarakat di stasiun transit. Mulanya, tumbuh 12,5 persen pada Juli, lalu turun menjadi 7,9 persen pada Juli dan hanya 3,7 persen pada Agustus.

Selain itu, ia juga membuat perhitungan sederhana terkait distribusi vaksin kepada masyarakat. Berdasarkan perhitungannya, membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk memberikan vaksin kepada 25 juta golongan masyarakat usia tua atau komorbid.

Dengan asumsi, pemerintah mampu menyediakan 68 ribu vaksin setiap hari dalam satu tahun.

Oleh sebab itu, ia menilai sebelum vaksin selesai, protokol kesehatan harus tetap dijalankan.

"Artinya ekonomi harus beroperasi dibawah 100 persen. Dengan kondisi ini, maka pemulihan akan berbentuk U, bukan V.  Untuk kuartal III tahun ini mungkin masih terjadi perlambatan," tandasnya. (din)


Sumber: cnnindonesia

Pantausatu
Media mencerahkan juga mencerdaskan

Berita lainnya

Post a Comment