Din Syamsuddin Akui Akun Twitter Miliknya 'Dibajak'

Din Syamsuddin


PANTAUSATU.ID
- Din Syamsuddin mengakui bahwa akun Twitter miliknya yang bernama @OpiniDin telah diambil alih oleh pihak lain yang ia duga berasal dari pihak-pihak yang merasa terganggu dengan kehadiran Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Din menyampaikan hal tersebut, Rabu (19/8) malam, setelah Mustofa Nahrawardaya menyatakan pada Selasa (18/8) bahwa akun Twitter milik Din telah diambil alih.

"Ya benar, setelah 26 Juni dikendalikan pihak lain. Saya tidak bisa log in. [Akun Twitter] Segera akan ditutup," kata Din, melalui pesan singkat.

"Isinya provokatif seolah-olah pernyataan KAMI. Sangat tendensius untuk mendiskreditkan KAMI. Pelakunya patut diduga dari pihak-pihak yang merasa terganggu dengan kehadiran KAMI," lanjutnya.

Mustofa melalui unggahan di Twitter miliknya menyebut bahwa akun milik Din telah diambil alih, bersama sebuah foto imbauan yang meminta kepada masyarakat "dimohon hati-hati terhadap seluruh isi, baik gambar, audio maupun visual dalam postingan akun tersebut".

Menurut penelusuran, Rabu (19/8) malam, akun @OpiniDin terakhir kali mengunggah kicauan pada 26 Juni 2020. Kala itu, Din berkicau melalui serangkaian unggahan.

"Dakwah Amar Ma'ruf Nahyi Munkar tdk akan berhenti hanya krn onak duri di tengah jalan. Bak pepatah "biar anjing menggonggong kafilah tetap berlalu"." tulis Din pada 26 Juni.

"Perjuangan meluruskan kiblat bangsa tidak ada titik kembali. Sekali layar terkembang pantang mundur ke belakang." lanjutnya.

Sementara itu, Din Syamsuddin diketahui menjadi salah satu deklarator KAMI bersama Achmad Yani, Rocky Gerung, Gatot Nurmantyo, Rochmad Wahab, Meutia Farida Hatta, MS Kaban, Said Didu, dan Refly Harun di Lapangan Tugu Proklamasi, Selasa (18/8).

KAMI adalah wadah oposisi ekstra parlementer. Achmad Yani membacakan bahwa KAMI memiliki 'Jati Diri' yang terdiri dari 10 poin.

Jati Diri tersebut di antaranya memuat tentang KAMI sebagai gerakan moral rakyat, bergerak untuk melakukan pengawasan sosial, kritik, koreksi, dan meluruskan kiblat negara dari penyimpangan dan penyelewengan.

Sementara peneliti politik dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai KAMI bisa mengubah wajah oposisi ekstra parlementer di Indonesia.

Menurut Wasis, selama ini tokoh-tokoh yang tergabung dalam KAMI mengkritik jalannya pemerintahan Jokowi secara personal.

Kini, dengan terbentuknya KAMI, kritik para tokoh-tokoh tersebut kepada pemerintahan Jokowi akan lebih lantang dan terkonsolidasi dengan baik.

"Karena mereka kini sudah menjadi gerakan kolektif, mungkin mereka akan lebih solid dalam mengkritik," kata Wasisto, Selasa (18/8). (ps)


Sumber: cnnindonesia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel