Covid-19, Kasus Kematian di India Tembus 50 Ribu

Ilustrasi petugas media tangani pasien covCovid


PANTAUSATU.ID - Pemerintah India, pada Senin (17/8), mengumumkan kasus kematian akibat Covid-19 di negara tersebut telah melewati 50 ribu, dengan kawasan pedesaan dan kota kecil yang lemah dalam sistem kesehatan menjadi daerah terdampak paling parah.

Sejumlah pakar menyebut angka kasus Covid-19 sesungguhnya di India bisa jauh lebih tinggi dibanding yang dilaporkan karena pengujian yang rendah. Selain itu, kasus kematian juga kerap tidak dicatat dengan baik di negara dengan jumlah penduduk 1,3 miliar tersebut.

India pada pekan lalu telah menjadi negara keempat dengan kasus kematian Covid-19 tertinggi di dunia, melewati Inggris yang sebelumnya menempati peringkat tersebut setelah Amerika Serikat, Brasil, dan Meksiko.

Menurut data Kementerian Kesehatan India, angka kematian Covid-19 di negara tersebut telah mencapai 50.921, per Senin (17/8).

Sementara itu, dengan sejumlah megacity terbesar di dunia dan pemukiman kumuh yang banyak, India kini telah menjadi negara dengan kasus infeksi Covid-19 ketiga terbesar di dunia, di bawah Amerika Serikat dan Brasil, dengan 2,65 juta kasus.

Meski angka kematian terus bertambah, Kementerian Kesehatan India mengatakan pada Minggu (16/8) bahwa rasio kematian kasus Covid-19 di negara itu "salah satu yang terendah di dunia" karena sebesar 1,92 persen.

"Pelaksanaan pengujian agresif yang sukses, pelacakan secara komprehensif, dan perawatan yang efisien melalui sejumlah besar tindakan telah berkontribusi pada tingkat pemulihan yang tinggi," kata Kemenkes India.

Menurut Worldometer, Amerika Serikat dengan kasus kematian sebesar 170 ribu memiliki persentase kematian 3,11 persen. Sementara itu, Brasil dengan 110 ribu kasus kematian, memiliki rasio 3,22 persen.

"AS melewati 50 ribu dalam 23 hari, Brasil dalam 95 hari, dan Meksiko dalam 141 hari. India melewati angka itu dalam 156 hari," kata Kemenkes India.

Pihak Kemenkes India menyebut kematian itu sendiri bisa dipengaruhi oleh sejumlah alasan, seperti populasi yang didominasi anak muda, iklim, dan paparan patogen penyebab tuberkulosis yang lebih besar dibanding tempat lain.

Namun para ahli menyebut rasio pengujian Covid-19 di India per sejuta orang adalah jauh di bawah negara lainnya. Selain itu, terlalu sedikit kematian yang dicatat dengan benar, bahkan kala normal tanpa pandemi.

"Sejumlah studi telah mengindikasikan hal tersebut, hanya satu dari empat kematian yang dicatat dan penyebabnya diketahui," kata Lalit Kant, mantan kepala epidemiologis dan penyakit di Komite Penelitian Medis India, kepada AFP.

Sebagai tambahan, banyak dari pengujian yang dilakukan tersebut merupakan rapid tes yang kerap menghasilkan hasil yang bias. Media lokal menyebut hasil dari pengujian itu bisa mencapai 30 persen dari total kasus yang dilaporkan. (din)



Sumber: AFP/cnnindonesia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel