Selama Diperintah Erdogan, Bagaimana Sebenarnya Kondisi Ekonomi Turki?

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan

PANTAUSATU.ID - Turki dan presidennya, Recep Tayyip Erdogan, jadi sorotan dunia terkait kebijakannya mengubah fungsi hagia Sophia menjadi masjid. Pada awal Juli lalu, Erdoganmengumumkan kalau status Hagia Sophia adalah masjid.

Hagia Sophia adalah satu situs warisan dunia UNESCO yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Istanbul. Selama ini, tempat bersejarah tersebut difungsikan sebagai museum sejak tahun 1930-an atau setelah revolusi di Turki yang dipimpin Kemal Ataturk.

Sikap pemerintah Turki yang mengubah bangunan peninggalan Romawi Timur itu memicu kontroversi dunia. Ini karena Hagia Shopia sebelumnya adalah katedral Kristen Ortodoks yang dibangun oleh Kaisar Byzantium Justinian I pada abad keenam.

Sebagai informasi, Erdogan saat ini menjabat sebagai Presiden Turki. Dia sebelumnya menduduki posisi Perdana Menteri sejak tahun 2003 hingga 2014. Sebelum memimpin Turki, Erdogan adalah Wali Kota Istanbul periode 1994-1998. 

Pada 2017 lalu, bersama partainya AKP, Erdogan yang sudah tak bisa lagi menjabat perdana menteri, mendorong dilakukannya refrendum untuk mengubah konstitusi sistem parlementer ke presidensial, sehingga membuatnya bisa kembali berkuasa di Turki.

Lalu, bagaimana kondisi ekonomi Turki selama masa pemerintahan Erdogan?

Dilansir dari CNBC, Rabu (22/7/2020), kondisi ekonomi Turki bisa dikatakan tengah terperosok dalam krisis dan belum juga pulih sejak beberapa tahun lalu.

Lira, mata uang Turki, anjlok di level paling rendah terhadap valuta asing pada Mei 2020 lalu. Sementara itu,inflasi pada bulan Juni dilaporkan cukup tinggi yakni sebesar 12,6 persen.

Setali tiga uang, cadangan devisa Turki juga menyusut drastis sehingga tak bisa berbuat banyak untuk menutup pengeluaran impor barang maupun utang luar negerinya. Menurut para analis ekonomi, sejauh ini belum tampak adanya perbaikan dalam waktu dekat.

"Lira masih overvalue. Belum lagi utang luar negeri yang terus meningkat dalam mata uang asing. Sepertinya lira akan kembali terdepresiasi dalam beberapa bulan ke depan jika ada intervensi kebijakan fiskal," kata Can Selcuki, Direktur Pelaksana Istanbul Economics Research.

Para ekonom di Turki sudah mengusulkan agar pemerintah mengambil kebijakan menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi. Namun Presiden Erdogan tampaknya kurang setuju.

Sebaliknya, Erdogan malah meminta bank sentral memotong suku bunga untuk alasan mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengeluaran, terutama setelah negara berpenduduk 82 juta itu dihantam pandemi virus corona.

Ibarat jatuh tertimpa tangga, ekonomi Turki yang sudah sempoyongan harus kembali tertekan karena serangan pandemi Covid-19. Sektor pariwisata yang selama ini jadi andalan devisa dan lapangan kerja Turki dalam kondisi babak belur akibat pandemi.

Sementara itu, Bank Sentral Turki tetap mempertahankan suku bunga di level 8,25 persen sepanjang Juni lalu. Lira sempat anjlok di titik paling rendah pada Mei lalu. Setiap 1 dollar AS bernilai 6,85 lira Turki. Nilai lira bisa lebih rendah jika negara itu tak melakukan redenominasi. 

Sementara mengutip laporan Moody pada awal bulan ini, pasar akan merespon negatif terhadap sejumlah kebijakan ekonomi Turki dan memprediksi ekonomi negara itu akan mengalami kontraksi hingga 5 persen di tahun 2020.

"Dana Moneter Internasional (IMF) juga memperkirakan ekonomi Turki akan mengalami kontraksi 5 persen," tulis Moody dalam keterangannya.

Sementara itu, Bank Sentral Turki juga dalam kondisi sulit dalam memutuskan kebijakan moneternya. Intervensi terhadap mata uang asing untuk menguatkan lira, justru membuat cadangan devisa, termasuk emas, terkuras.

Menurut laporan Fitch Ratings, cadangan devisa Turki menyusut hanya menjadi 33 miliar dollar AS pada akhir Juni lalu. Sementara pada akhir tahun 2019, cadangan devisa yang dimiliki Turki dilaporkan masih berada di level 87 miliar dollar AS.

"Turunnya cadangan devisa semakin menambah lemahnya kredibilitas kebijakan moneter dan suku bunga, sehingga meningkatkan risiko tekanan eksternal," tulis Fitch dalam laporannya.

Di dalam negeri Turki, lesunya permintaan dan harga BBM yang rendah jadi penolong bagi Turki agar angka inflasi tak semakin tinggi.

"Saya pikir kondisi ini masih akan sulit dalam beberapa waktu ke depan. Mungkin kita berada di tren di mana inflasi naik lebih tinggi. Tapi, saya tidak terlalu setuju dengan pernyataan kalau ekonomi kita sudah mencapai titik terendahnya," ucap Selcuki. (ps)


Sumber: kompas

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel