Rizal Ramli Curhat Ungkit Masa Lalu Ekonomi di Rezim ORBA


Pantausatu.id – Masa lalu biarlah masa lalu, jangan kau ungkit lagi. Demikian sepenggal lirik lagu pedangdut fenomenal Inul Daratista. Namun, bagi Rizal Ramli masa lalu adalah kenangannya.


Rizal Ramli bersama Ali Sadikin, Emil Salim, Faisal Basri, Anggito Abimanyu, Bambang Widjojanto, Gunawan Muhammad dan sejumlah tokoh aktivis lainnya, menyampaikan petisi terhadap Bank Dunia di Indonesia di depan James D. Wolfenshon.

Pada kesempatan tersebut, Rizal Ramli secara tegas meminta Bank Dunia menjadikan kunjungan kerjannya ke Asia Timur untuk mengkampanyekan reformasi sistem keuangan dunia di segala sektor secara luas.

"Bank Dunia telah menyerukan reformasi luas yang mencakup keuangan daerah dan sektor industri, rezim perdagangan, utang luar negeri, dan lembaga pemerintah. Reformasi ini harus mendorong keterbukaan, transparansi, dan akuntabilitas yang lebih besar,” kata Rizal Ramli seperti dikutip RMOL.ID.

Pengamat Ekonomi Rizal Ramli menyampaikan tidak suka terhadap Bank dunia karena terlalu sering memberikan pujian terhadap pengelolaan keuangan Indonesia yang dinilainya ekonomi Indonesia telah dibuat ambruk oleh pemerintahan Orde Baru karena tidak menerapkan akuntabilitas dan transparansi keuangan.

lebih lanjut, Rizal Ramli mendesak Bank Dunia untuk tidak menganakemaskan Indonesia karena capaian defisit neraca yang berjalan pra krisis moneter sudah sangat besar bahkan nilai tukar rupiah mulai menanjak tinggi.

Karena itu, Menteri yang dipecat Jokowi ini mengatakan, krismon di Indonesia sangat merusak kredibilitas Bank Dunia.

Hal tersebut disebabkan Bank dunia tidak kritis atas kebijakan keuangan Indonesia yang tidak taat pada peraturan hukum.

“Namun Bank Dunia dalam tinjauan kebijakan 1997-nya, yang dirilis hanya sebulan sebelum dievaluasi oleh Thailand. Dan bahkan sampai akhir Juli 1997, masih mengambil pandangan optimis prospek ekonomi Indonesia,” ujar Rizal Ramli

Kata Bang RR – demikian dia biasa disapa, di hadapan James D. Wolfenshon menyayangkan perlakuan berlebihan Bank dunia terhadap bidang keuangan Indonesia. Mereka selalu meyakinkan elit Indonesia terkait Para investor dalam dan luar negeri tentang dana pinjaman yang diberikan akan bisa kembali beserta dengan bunganya. Sayangnya, hal tersebut membuat membuat Indonesia malah tersesat dan mengalami krisis moneter.

“Dengan mempromosikan argumen bahwa semuanya baik dan baik-baik saja, Bank Dunia telah menyesatkan investor domestik dan asing. Bank Dunia juga gagal menghubungkan pinjaman sektor keuangan dengan peningkatan pengawasan, dan pengawasan di atas sektor perbankan yang ekspansif,” urai Mantan Menko Perekonomian itu.

Lebih lanjut, Rizal Ramli mengurai hubungan saling menguntungkan antara Bank dunia dengan para elit Indonesia.

Terkait hal tersebut, Rizal Ramli mencontohkan Bank dunia sangat gembira dengan keputusan menteri Indonesia untuk mengembangkan proyek baru dan menerima kewajiban pinjaman baru. Namun ternyata, dalam penerapannya banyak sekali penyelewengan-penyelewengan.

Parahnya lagi, Bank dunia terkesan bersekongkol dengan menteri presiden Soeharto untuk ikut menutupi tanggungan hutang yang semakin membengkak. Bahkan, mereka setuju untuk tidak membuka secara detail terkait implementasi proyek yang dijalankan oleh pemerintah.

“Contoh yang sangat mengerikan dari hal ini adalah ‘Bank Poverty Study of Indonesia’ milik Bank Dunia 1990. Ketika pemerintah menolak analisis awal, Bank Dunia setuju untuk merevisi angka-angka tersebut, dan setuju menurunkan angka kemiskinan sebesar 60 persen,” kata RR.

Berdasar fakta tersebut, RR menuntut James D. Wolfenshon dan Bank dunia untuk membuka informasi portofolio Bank dunia di Indonesia secara lengkap. demikian juga dengan pengawasan dan laporan evaluasi plus rincian keuangannya.

“Bank Dunia harus menunjukkan pentingnya akuntabilitas dan mengakui perannya sendiri dalam perumusan kebijakan Indonesia sebelum krisis keuangan. Bank Dunia harus menerima tanggung jawab penuh atas penyimpangan keuangan yang berkaitan dengan proyek,” urainya.

Beberapa saat kemudian, James D. Wolfenshon menanggapi kritik pedas RR dengan mengakui kesalahan yang diperbuat organisasinya. Menurutnya, Bank dunia memang terlalu terlalu optimistis dalam memprediksi perekonomian Indonesia, akibatnya, terjadilah krisis ekonomi berkepanjangan.

“Saya di sini (di Jakarta) setahun yang lalu. Dan saya terperangkap dalam antusiasme. Saya tidak sendiri dalam melihat ekonomi Indonesia yang beberapa waktu sebelumnya bagus,” kata James D. Wolfenshon waktu itu. (rmol/ps) 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel