Soekarno, Presiden yang Menolak Simbol Perbudakan Perempuan di Muhammadiyah

Visual Grafis oleh Dhia Amira

Pantausatu.id - Saat berusia 14, pada 1915, Soekarno mendatangi rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Rumah itu berada di Gang Peneleh VII, tepi Sungai Kalimas, Surabaya. Ia bermaksud indekos di rumah itu selama masa sekolahnya di Hoogere Burger School(HBS) Surabaya.


Tjokroaminoto dikenal sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan yang bergaung di seantero Jawa. Sarekat Islam (SI) yang dipimpinnya saat itu adalah organisasi massa yang paling dIakui tendensi anti kolonIalnya.

Rumah kecilnya itu sering digunakan untuk mengonsolidasikan kekuatan. Maka rumah itu tidak pernah sepi dihadiri tokoh-tokoh lintas kalangan.

Dengan situasi seperti itu Soekarno muda menjadi gemar belajar. Ia selalu mendengarkan dan bertanya kepada orang-orang yang datang berdiskusi. Di sana Ia juga tinggal bersama Musso dan Kartosuwiryo.

Salah seorang yang sering bertamu adalah Ahmad Dahlan. Pada tahun 1916, untuk pertama kalinya Soekarno bertemu dengan pendiri Muhammadiyah, yang saat itu juga menjabat Penasihat Organisasi SI.

Menjadi Santri Ahmad Dahlan

Soekarno tumbuh dalam lingkungan keluarga Muslim dengan nuansa Islam yang tidak begitu kuat. Sukemi Sosrodiharjo, Ayahnya, adalah penganut Islam Kejawen. Sementara Ibunya, Ida Ayu, perempuan yang dulunya beragama Hindu dari Kasta Brahmana.

Ia juga tidak pernah merasakan pendidikan agama layaknya di Surau, Madrasah atau Pesantren. Maka, pertemuannya dengan Ahmad Dahlan menjadi begitu membekas dalam memberikan pemahaman mendasar mengenai Islam.

Waktu itu, Ahmad Dahlan datang dan mendiskusikan banyak hal dengan Tjokroaminoto. Tetapi di antara semuanya, penjelasan Ahmad Dahlan mengenai Islam adalah yang paling membuat Soekarno terkesan.

Ahmad Dahlan memberikan pandangan mengenai kemunduran Islam. Menurutnya, kemunduran tersebut disebabkan karena banyak Muslim yang keliru memahami Islam. Mereka bersikap taklid, menganggap kemunduran terjadi karena takdir, sehingga terjebak dalam keterjajahan.

Mereka hanya mengerti Islam dari kulit, tidak pada isinya. Padahal menurutnya, Islam adalah agama yang sederhana, mudah dan selaras dengan kemajuan zaman.

Soekarno jatuh hati dengan pandangan Ahmad Dahlan. Ia mengagumi semangatnya dalam berijtihad. Ia juga diperkenalkan dengan gagasan pemikir-pemikir modern Islam dan menjadi mengerti pertautan antara Islam dengan kemajuan masyarakat dan negara.

Kekaguman itu membimbingnya untuk mendalami Islam, sehingga selalu menghadiri pengajIan Ahmad Dahlan di Surabaya.

Bergabung dengan Muhammadiyah dalam Pengasingan

Kekaguman terhadap Ahmad Dahlan, tidak lantas membuatnya bergabung dengan Muhammadiyah. Ia baru bergabung dengan Muhammadiyah di Bengkulu, 22 Tahun setelah pertemuan pertama mereka.

Tepatnya pada tahun 1938, saat pemerintah kolonial Belanda memindahkan tempat pengasingannya dari Ende ke Bengkulu, yang saat itu menjadi ibu kota Keresidenan di Sumatera.

Setibanya, Soekarno ditemui oleh Hasan Din, seorang Pengurus Muhammadiyah Daerah Bengkulu. Din tahu bahwa Soekarno sering berkorespondensi dengan A. Hassan, salah seorang pendiri Persatuan Islam (Persis).

Karena itu Ia mengerti bahwa Soekarno setuju dengan modernisme Islam. Din kemudian mengajak Soekarno bergabung dengan Muhammadiyah, sekaligus mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah di Bengkulu. Ajakan itu disetujui Soekarno.

Tidak lama setelah itu, pada 5 Agustus 1938, Ia bahkan dipercaya menjabat Ketua Dewan Pengajaran Muhammadiyah di sana. Tetapi, Soekarno menilai orang-orang Muhammadiyah di Bengkulu lebih mengedepakan ritual ibadah dan Fikih yang formalistik daripada substansi Islam.

Substansi yang dia maksud adalah bagaimana Islam menjadi agama yang rasional dan memiliki visi kerakyatan. Sesuatu yang Ia temukan dalam diri Ahmad Dahlan.

Kelak Soekarno juga menjadi menantu Din. Pada 1943 Soekarno menikahi putri semata wayang Din, Fatmawati, muridnya yang juga pengurus Nasyiatul Aisyiyah.

Soekarno pernah memprotes sebuah rapat Muhamadiyah. Saat itu Ia bersama Inggit Ganarsih, istrinya sebelum Fatmawati, meninggalkan rapat karena persoalan tabir.

Tabir yang menjadi pemisah antara peserta laki-laki dan perempuan itu dianggapnya sebagai simbol perbudakan perempuan. Selama tabir itu masih ada, selama itu juga Ia tidak mau menghadiri rapat Muhammadiyah.

Ia kemudian memberikan keterangan dalam Surat kabar Pandji Islam, yang kelak dimuat ulang dalam Di Bawah Bendera Revolusi jilid I (1960). Menurutnya, Islam justru ingin mengangkat derajat perempuan.

Pemasangan tabir tidak pernah diwajibkan dalam Islam. Menjadi anggota Muhammadiyah tidak berarti menyetujui semua yang ada di dalamnya.

Protes itu mendapat banyak penolakan. Hingga Mas Mansur, Ketua PP. Muhammadiyah saat itu, memberikan keterangan bahwa pemasangan tabir memang bukan kewajiban dalam Muhammadiyah.

Sebuah konferensi pengurus Muhammadiyah se-Sumatera kemudian digelar pada tahun 1940. Konferensi ini diinisIasi oleh Soekarno bersama sahabatnya, Abdul Karim Oey, Semaun Bakrie (Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah Bengkulu) dan Haji Yunus Abdur Rahman (Ketua Majelis Tarjih).

Oey mencatat ini dalam memoarnya, Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa(1982). Konferensi ini disambut dengan begitu antusias. Hadir waktu itu Buya Hamka, Teuku Hassan, A.R. Sutan Mansur, Abdul Muin, R.Z. Fananie, dan Mas Mansur selaku Ketua PP. Muhammadiyah.

Konferensi ini memutuskan untuk meningkatkan mutu administrasi sekolah, persyarikatan dan mendorong lebih jauh lagi modernisasi pendidikan serta mengintegrasikannya dengan semangat kemerdekaan dan tanah air.

Keputusan itu selaras dengan pandangannya yang selalu Ia sampaikan di setiap kelas dan rapat. Ia berkeyakinan bahwa tidak ada kewajiban untuk menjalankan sebuah pemerintahan Islam.

Tetapi yang utama adalah saat ajaran Islam melandasi perilaku keseharian dalam bermasyarakat. Karena itu Islam selalu selaras dengan kemajuan masyarakat dan negara.

Saat perang Asia Timur Raya terjadi, Soekarno menginisiasi pembentukan Penolong Korban Perang (Pekope). Sebuah badan untuk mengantisipasi jatuhnya korban akibat dari Perang Asia Timur Raya.

Muhammadiyah Bengkulu berperan besar dengan menyediakan semua fasilitas yang dimiliki untuk aktivitas Pekope.

Ingin Dikubur dengan Kafan Muhammadiyah

Saat memimpin Republik Indonesia, Soekarno berpolemik dengan Muhammadiyah. Muhammadiyah yang dipimpin oleh Ki Bagus Hadikusumo saat itu berafilIasi dengan Partai Masyumi.

Ia begitu gemar mengkritik kebijakan Soekarno dengan propaganda politik Islam. Sementara Soekarno memilih haluan berbeda dengan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Polemik ini meninggi pada tahun 1946, saat Muhammadiyah ingin menarik keanggotaan Soekarno. Namun begitu, Ia memohon kepada PP Muhammadiyah untuk tidak mengeluarkannya.

Hingga pada pidato pembukaan Muktamar Muhammadiyah di Jakarta pada 1962, yang bertepatan dengan perayaan setengah abad usia Muhammadiyah, Soekarno diundang dan memberikkan sambutan.

Setelah menceritakan pertemuannya dengan Ahmad Dahlan di depan hadirin, Ia menegaskan cintanya; “Nah, dengan demikianlah, saudara-saudara, keyakinan saya bahwa ada hubungannya erat antara pembangunan agama dan pembangunan tanah air, bangsa, negara dan masyarakat. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, kok makin lama makin saya cinta kepada Muhammadiyah…………………………….. Moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhanahu wa Ta’aala. Dan, jikalau saya meninggal, supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saja”. 


Sumber: tanpabatas.co 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel