Soeharto Sebabkan SDM Indonesia Berkualitas Jadi Terasing

Budiman Sudjatmiko

Pantausatu.id - Politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko menceritakan mengenai ribuan orang Indonesia yang harus terasing di luar negeri dan tidak bisa kembali ke tanah air sejak 1965 akibat politik rezim Soeharto. 


Budiman mengungkapkan, pada 1960-an, Bung Karno mengirim anak-anak  muda Indonesia ke berbagai negara untuk menimba ilmu. Tujuannya, agar mereka bisa membangun Indonesia setelah menyelesaikan studinya. 

Ribuan anak muda Indonesia itu dikirim oleh Bung Karno untuk belajar fisika nuklir, pertanian, ekonomi, roket, baja dan sebagainya di negara-negara seperti Rusia, Jerman Timur, Ceko, dan Hungaria. 

"Bung Karno mengirim anak2 muda itu pd 1960an. RRC baru melakukannya awal 1980an. Kini #TeknologiKuantum (Pan Jianwei dkk) & #KecerdasanBuatan China (Kai Fu-lee dkk) sudah pepet2an dgn AS. Kita? Baru seneng2nya ber-E-commerce. Ayo naikkan standarmu, NKRI!," ujar Budiman di akun Twitternya. 

Ilustrasi. Anak-anak muda Indonesia yang dikirim Bung Karno untuk belajar fisika nuklir, pertanian, ekonomi, roket, baja dan sebagainya di negara-negara seperti Rusia, Jerman Timur, Ceko, dan Hungaria.


Tapi tragisnya, ribuan anak muda pilihan itu dicabut kewarganegaraannya oleh rezim Orde Baru (Orba) Soeharto. Mereka pun tak bisa pulang ke Tanah Air karena dianggap Komunis atau pro Soekarno. 

Beberapa dari anak muda itu kemudian menjadi pembesar di industri senjata Swedia serta pimpinan program nuklir Hungaria.

"Ada yang jadi Wakil Direktur Industri Senjata Swedia (bukan negara komunis tapi negara sosial demokrasi). Pernah kubaca juga ada yang jadi pimpinan Program Nuklir Hungaria. Dicabut status WNI-nya karena mereka MENOLAK PERINTAH ORBA UNTUK MENGUTUK BUNG KARNO," ungkap Budiman.

Adapun dari mereka yang kembali ke Tanah Air, hidupnya memprihatinkan karena tekanan Orba. Budiman mengungkapkan, dulu dirinya pernah bertemu seseorang yang merupakan Doktor Fisika Nuklir lulusan Universitas Negara Moskwa Lomonosov (MIT-nya Uni Soviet).

"Gara2 Orba, sang Doktor Nuklir akhirnya buat daging bakso di Pamulang. Untuk menafkahi keluarganya," ujarnya. 

Indonesia pun, lanjut Budiman, hanya mendapat anak-anak dari para warga yang terasing tersebut. Anak-anak mereka, yang notabene berdarah Indo atau campuran, menjadi artis di Indonesia pada pertengahan 1980-1990 an.

Hal ini menunjukkan bahwa rezim Orde Baru cuma memanfaatkan wajah anak-anak Indo itu untuk menjadi artis dan idola generasi muda, bukannya menerapkan ilmu orang tua mereka. 

"Andai ilmu mereka dimanfaatkan untuk bangsa, pada 1970an Indonesia bisa menapak jadi bangsa yang disegani karena sains teknologinya. China mah saat itu belum apa-apa. Vietnam juga masih perang. Korsel? Masih katrok & disuapi AS. Kita 32 tahun jadi ajang bisnis keluarga," papar Budiman. (gesuri) 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel