Pengusung Khilafah HTI-FPI Tetiba Peduli Pancasila, Ada Apa?

Ormas FPI berdemo

Pantausatu.id - Revisi Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila telah menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat, hampir semua organisasi kemasyarakatan bersikap kontra atas agenda legislasi tersebut. 


Lalu, siapa saja yang menolak RUU HIP ini? Yaitu, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Front Pembela Islam (FPI), dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).(06/2020)

Keberadaan dua kelompok ekstrem FPI dan HTI tampak memberi keyakinan kepada publik seakan-akan mereka benar-benar peduli Pancasila. 

Sehingga, kita bertanya, apakah ini adalah strategi politik FPI-HTI dalam upaya melenyapkan Pancasila? Ataukah mereka sudah murni hijrah dari paham khilafah?

Sistematika pertanyaan tersebut merangkum judul editorial kali ini, meski belakangan ini, FPI-HTI tidak pernah absen mengkritik ideologi negara. Bahkan, ketika pemerintah baru mendirikan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Yang melakukan kritik sebagian besar datang dari kelompok mereka.

Maka, ketika munculnya RUU HIP di DPR, FPI-HTI memilih menolak. Artinya, mereka sadar. Bahwa, Pancasila merupakan fondasi kehidupan berbangsa, dan bernegara. Mereka yang awal mulanya menyuarakan ide khilafah, kini tiba-tiba pro Pancasila. Benarkah sikap mereka murni?

Dalam bayangan kita, kalau mengacu kepada sejarah dimana mereka membenturkan agama dan negara, serta ingin menegakkan khilafah dengan cara mempersoalkan status Pancasila. Tentu, jihad Pancasilais mereka politis. Beberapa tahun kemudian, hanyalah FPI-HTI yang tidak pernah sepakat.

Fakta mereka menentang Pancasila indikatonya ada dua hal. Pertama, tesis ketua umum FPI, Habib Riziek Shihab, yang judulnya “Pengaruh Pancasila Terhadap Penerapan Syariat Islam di Indonesia”. Kedua, munculnya gagasan negara khilafah yang diusung oleh komplotan HTI.

Indikator tersebut dapat membongkar bagaimana mereka dalam menyusun strategi politik, dan menggerakkan kata jihad. Meskipun kini tampak terang-terangan membela Pancasila seakan-akan itu memperlihatkan kelompok mereka adalah ormas yang sangat-sangat Pancasilais.

Khilafah Vs Pancasila

Penolakan sikap baik NU-Muhammadiyah, maupun FPI-HTI. Adalah mereka berlomba-lomba untuk apa yang menjadi misi keindonesiaan, dan kebangsaan. 

Soal RUU HIP mereka anggap bisa jadi peluang pintu masuknya paham komunis, juga kesempatan dalam kesempitan. HTI-FPI berbondong-bondong mendukung Pancasila demi misi kekhilafahannya.

FPI-HTI adalah kelompok ekstrem yang pandai memainkan narasi politis. Sehingga, narasi yang mereka bangun tidak lain hanya mengacaukan keimanan masyarakat Indonesia kepada syariat Pancasila. Sebab itu, mereka memahami bahwa ideologi khilafah tidak compatible dengan ideologi negara.

Inilah tipu muslihat yang sesungguhnya, mereka membawa-bawa isu PKI/Komunisme guna mengalihkan perhatian publik. Padahal, sebenarnya FPI dan HTI-lah yang anti Pancasila. Sikap bejat mereka sangat jelas sebagaimana bahaya PKI sama seperti bahaya dukungan mereka kepada Pancasila.

Sungguh acting para aktivis kelompok Khilafatisme/FPI/HTI menunjukkan batang hidung mereka berlindung di balik sikap kontra RUU HIP, jikalau Pancasila murni mereka perjuangkan, maka kebenarannya akan terbukti. Bahwa, hal itu jihad politis yang bisa saja menghancurkan ideologi negara.

Khilafah adalah ajaran Islam yang selalu dibenturkan oleh kelompok-kelompok ekstrem (FPI-HTI) yang tidak mengamini lahirnya Pancasila, jihad demi jihad telah membuat mereka terkonotasi penjahat. Dengan demikian, umat Islam maupun non-muslim tidaklah mungkin meneladani penjahat.

Konotasi tersebut didasarkan kepada tulisan Nun al-Qolam yang tersebar di WhatsApp, “HTI tidak mau disebut anti Pancasila. HTI justru mengklaim akan membuat Indonesia adil makmur. Namun, kebohongan mereka tidak akan mampu bertahan lama. Akhirnya, terkuaklah agenda terselubung HTI. Bahwa, tujuan utamanya (grand design) itu ingin menggulingkan Pancasila, membuang UUD 1945, dan mengganti sistem di NKRI.”

Dan tidak hanya HTI saja, tetapi, FPI berlagak sama. Mereka ingin berlindung di balik kebohongan jihad menolak RUU HIP, akhirnya masyarakat mudah menilai mereka sebagai kelompok yang berjuang keras demi Pancasila. Kita semua harus tahu modus dan kedok mereka apa? Dan bagaimana proyeksi mereka kedepannya? Dan apa yang akan mereka lakukan setelah ini?

Jangan Tertipu

Satu-satunya jalan yang harus kita tempuh adalah bagaimana masyarakat tidak menaruh simpati, meski FPI-HTI bersikap keras menolak Komunisme/PKI. Sebab itu, setelah mereka berhasil menggulingkan Pancasila, maka Khilafatisme/FPI/HTI akan bangkit dan potensial menghancurkan Indonesia.

Jadi, jangan tertipu dan jangan tertipu… sebab paham komunis sama seperti bahaya khilafah. Selama mereka tidak sepakat akan ideologi Pancasila, maka sepanjang sejarah jihad mereka dianggap jahat. Apalagi sampai-sampai berupaya mengalihkan perhatian publik dengan cara membela?

Justru, nota pembelaan mereka tidak perlu kita respon secara berlebihan. Karena itu, akan membuat mereka berbanggi diri, dan semakin liar. FPI-HTI rela disebut pembela Pancasila asal. Setelah itu, mereka berhasil menggulingkan melalui agenda khilafah yang tersusun secara sistemik.

Alhasil, garis perjuangan mereka tidak perlu menjadi perhatian masyarakat, dan pemerintah. Jangan terlalu mudah percaya atas apa yang mereka lakukan, meski mereka mulai mengamini dan mengimani syariat Pancasila. Kita perlu waspada dan menjauh dari tindakan-tindakan ekstrem tersebut.

Taktik politik yang mereka mainkan harus dibongkar sedalam-dalamnya oleh masyarakat, dan pemerintah. Tanpa harus kita percaya lagi dan percaya lagi, apapun risikonya. Menolak RUU HIP adalah solusinya, semoga besar harapan FPT-HTI betul-betul ingin hijrah, dan peduli Pancasila. Tetapi, bukan hanya menyisakan tipuan semata.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel