Pemerintah Siapkan Politeknik Ciptakan Tenaga Ahli Gantikan Pekerja Asing

Luhut Panjaitan. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Pantausatu.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, pemerintah membuat politeknik di Indonesia Timur untuk menyiapkan tenaga kerja yang ahli di bidang teknis. 


Tiga politeknik tersebut ada di Morowali, Konawe dan Wedabe yang mendatangkan dosen dari ITB, ITS dan kampus unggulan lainnya.

Diharapkan para lulusan politeknik ini akan menggantikan tenaga asing yang saat ini didatangkan langsung dari negara asal investor. 

"Putra putri kita untuk menggantikan TKA di dalam itu, satu proses yang banyak tak dipahami," kata Luhut di Badan Anggaran di Gedung DPR RI,Jakarta, Senin (22/6).

Dia menjelaskan, Indonesia belum memiliki tenaga teknis yang memadai dalam bidang meteorologi. Saat ini ada sekitar 8 persen tenaga kerja asing (TKA) asal China dan Prancis yang bekerja di Indonesia. Sementara sisanya merupakan tenaga kerja Indonesia.

Dia menjelaskan, selama ini pemerintah menetapkan 5 kriteria bagi negara-negara yang ingin berinvestasi di Indonesia, salah satunya China. 

"Jadi dia (China) tak sekedar dia masuk. Ada lima kriteria mereka untuk masuk Indonesia," imbuhnya.

Lima kriteria investasi di Indonesia, yaitu harus membawa teknologi kelas satu, melakukan transfer teknologi, membawa nilai tambah, melakukan kerja sama B to B untuk menghindari deep trap, dan menggunakan tenaga kerja Indonesia sebanyak mungkin.

Dia menambahkan, pemerintah tetap menjaga hubungan baik dengan China meski perekonomian negara tirai bambu tersebut tengah menurun. 

Sebab 18 persen perekonomian dunia, sebelum virus corona menyebar, dikuasai negeri tirai bambu ini.

Diketahui, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I-2020 kontraksi hingga -6,8 persen dari tahun sebelumnya. Kondisi ini pun berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia. 

Sebab, sebagaimana diketahui, Indonesia dengan China banyak menjalin hubungan kerja sama.

"China itu 18 persen mengontrol ekonomi dunia, suka tidak suka kita tidak bisa ignore keberadaan dia. Nah ini punya dampak, apalagi jarak kita dekat dengan dia. Sehingga kita harus memelihara dalam soft power antara bagaimana kita berhubungan dengan Timteng, dengan China, dengan Amerika," jelasnya. (merdeka) 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel