Nyatakan Perang ke FPI, Komunitas Independen Batak: Kami Merasa Ternodai


Pantausatu.id – Front Pembela Islam (FPI) di Sunatera Utara mendapat tantangan dari Komite Independen Batak (KIB). KIB bahkan menyerukan untuk mengusir FPI dari Sumatera Utara.


Hal ini bermula ketika FPI diduga melakukan persekusi terhadap seorang wanita yang menjual miras jenis tuak di Batang Kuis Deki Serdang. FPI tak terima sebab saat ini bulan Ramadan.

“Kami dengar ada seorang ibu rumah tangga dilecehkan, direndahkan, dihina, disampaikan cap kotor sekotor-kotornya oleh segerombolan manusia-manusia (maaf) biadab, yang kami dengar dari ormas FPI,” kata Ketua KIB, Tagor Aruan dalam video yang tersebar di jagat maya

Sebagai putra Batak, kata Tagor, dia sangat menentang perlakuan FPI terhadap pemilik kedai tuak, Lamria Maang. “Kami merasa terluka, kami merasa ternoda, buruh kami diperlakukan seperti itu,” kata Tagor.

“Saya Tagor Aroan atas nama Komite Indpenden Batak menyatakan mengusir, menentang, meminta aparat membubarkan FPI dari bumi Sumatera Utara, dari Kota Medan, dari Batang Kuis,” tegasnya.

“Saya mengajak seluruh elemen masyarakat, seluruh elemen bangsa Batak, mari kita bersatu, berkumpul untuk mengusir FPI dari Kota Medan, dari Sumatera Utara,” sambung dia.

Dia menyatakan perang terhadap FPI. “Saya menyatakan perang dengan FPI, bubarkan FPI. Mari kita bersatu semuanya, bergerak untuk mengusir FPI dari Indonesia, dari Sumatera Utara dan Kota Medan,” pungkas Tagor.

Sebelumnya, video sekelompok orang dari FPI mendatangi kedai tuak milik Lamria Maang di Batang Kuis viral di media sosial.

Dalam video itu terlihat Lamria Maang mempertahankan kedai tuak miliknya saat diminta tutup oleh sekelompok orang. Dia mengatakan warung miliknya tetap buka untuk mencari makan sehari-hari.

“Pak, saya makan dari mana. Saya warga sini loh. Saya makan dari mana. Bapak ini bagaimana? Bisa Bapak kasih aku makan? Pak, bisa Bapak kasih aku makan?” katanya.

Wanita itu mengatakan telah menutupi warung miliknya agar tidak terlihat dari bagian luar. Ia menolak barang-barang miliknya yang akan diambil.

“Kan itu ditutup Pak. Kan katanya harus ditutup, saya tutup. Jangan bawa barang-barang itu, bisa kalian kasih saya makan?” katanya. (fin/fajar)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel