Saat NU-Muhammadiyah Kompak Serukan: Lebih Baik Tak Mudik Dulu!


Pantausatu.id - PP Muhamadiyah dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membuat anjuran senada soal tak perlu melakukan perjalanan mudik apabila wabah virus Corona (COVID-19) belum berakhir. Mudik disebut bukan ajaran agama.


"Untuk mudik bisa dipertimbangkan dengan situasi di mana dia mau datang ya. Daerah yang dituju dan ditinggalkan, dilihat situasinya. Jadi bukan (melarang), tapi harus dengan pertimbangan, wong itu (mudik) juga tidak harus kok. Mudik kan tidak ajaran agama, tradisi silaturahim saja," kata Penasihat PWNU DIY, KH Azhari Abta.

Wakil Rois Syuriah PWNU DIY, Hilmy Muhammad, juga menegaskan tradisi mudik itu bukan sesuatu yang bersifat wajib. Silaturahim, kata dia, bisa dilakukan kapan saja. "Mudik kan harus dilakukan dan tidak harus pada waktu itu (lebaran), itu yang harus kita edukasi ke masyarakat," katanya.

Sekretaris Umum (Sekum) PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti juga mengatakan mudik adalah tradisi masyarakat Indonesia sebagai bentuk silaturahim.

Meski kerap dilaksanakan dalam satu rangkaian Idul Fitri, dia menegaskan tradisi mudik bukan bagian dari ajaran agama.

"Karena itu, tidak ada masalah apabila tidak mudik. Di dalam ajaran Islam, menyelamatkan kehidupan jauh lebih penting dibandingkan dengan melaksanakan tradisi yang mengandung risiko keselamatan, misalnya karena virus Corona atau sebab-sebab lainnya," paparnya kepada detikcom, Kamis (2/4).

Mendengar Lagi Imbauan Tak Mudik dan Imbalan Bansos dari Pemerintah:

Abdul Mu'ti mengakui silaturahim merupakan akhlak mulia dan sangat dianjurkan dalam ajaran Islam.

Dalam situasi normal, silaturahim memang dianjurkan untuk dilakukan dengan saling berkunjung, memberi hadiah, dan berjabat tangan.

"Jika tidak benar-benar mendesak, sebaiknya masyarakat tidak memaksakan diri untuk mudik pada Idul Fitri Syawal 1441 H. Silaturahim dapat dilaksanakan dengan cara lain dan pada waktu yang lain, apabila situasi sudah membaik dan aman," katanya.

Menurutnya, dalam situasi tertentu karena keadaan, jarak, dan kesempatan silaturahim tetap dianjurkan walaupun dilakukan dengan cara yang berbeda.

Terlebih di era digital begitu pesat dan dapat dimanfaatkan sebagai media silaturahim.

"Misalnya dengan berkirim surat (korespondensi), surat elektronik (e-mail), telepon, video call, dan cara-cara yang lain. Inti silaturahim adalah saling mendoakan, berbagi suka-duka, dan membantu meringankan beban atau masalah," kata Abdul. (detik)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel