Politikus PKS Serukan Tolak Kedatangan TKA China


Pantausatu.id – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Abdurrahman Saleh menegaskan, bakal memimpin langsung demonstrasi jika 500 tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok benar-benar datang. 


Alasan penolakan terhadap rencana kedatangan ratusan TKA tersebut, karena masyarakat Sultra saat ini sedang menghadapi Covid-19.

”Kalau ini tetap dipaksakan datang (500 TKA), intelijen kita bisa mengawasi kapan datangnya. Saya akan memimpin langsung demonstrasi. Semoga ini bisa menjadi sejarah. Ini bisa dikenang sampai 2024,” kata Abdurrahman Saleh seperti dilansir dari Antara di Kendari pada Rabu (29/4).

Abdurrahman mengungkapkan, jika para TKA tersebut datang di Sultra akan menimbulkan keresahan bagi masyarakat dan dapat menimbulkan gejolak sosial di tengah-tengah masyarakat. Menurut dia, DPRD bukan antiasing. Investasi memang dibutuhkan namun regulasinya harus dipatuhi.

”Hari ini, dunia sedang pandemik Covid-19. Untuk itu mewakili fraksi kita tolak. Di satu sisi aturan regulasi benar tapi dampak kedepannya dan dampak sosialnya,” ucap Abdurrahman.

Sementara itu, Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muhammad Poli menilai, rencana pemerintah pusat yang ingin mendatangkan TKA di Sultra merupakan hal yang lucu. Sebab, banyak tenaga kerja lokal di Sultra yang dirumahkan akibat pandemik Covid-19.

”Apabila tetap berkeras mendatangkan 500 TKA tersebut, Fraksi PKS akan mengajak Fraksi PKS di DRPD Kota Kendari, DPRD Kabupaten Konawe, dan DRPD Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) turun langsung demonstrasi di Bandara Haluoleo Kendari,” kata Muhammad Poli.

Berdasar rapat paripurna DPRD Sultra pada Rabu (29/4), seluruh unsur pimpinan dan fraksi secara tegas menyampaikan penolakan terhadap rencana kedatangan 500 orang TKA asal Tiongkok di Sultra yang akan bekerja di perusahaan tambang PT VDNI di Morosi, Kabupaten Konawe.

Wakil Ketua I DPRD Sultra Herry Asiku mengungkapkan, seharusnya pemerintah mempertimbangkan kebatinan masyarakat khususnya warga Sulawesi Tenggara. Bahkan dia menilai bahwa seakan-akan pemerintah tidak melindungi masyarakat.

”Sesama teman pun kita saling waspada apalagi orang asing yang asal penyebaran Covid-19. Jadi kita bukan antiinvestasi dan anti-TKA, tapi suasana kebatinan kita yang memaksa untuk tidak menerima TKA dulu,” ujar Herry.

Wakil Ketua II DPRD Sultra Muhamad Endang menyampaikan, pihaknya dengan tegas menolak rencana kedatangan ratusan orang TKA tersebut. ”Sikap kami tegas menolak. Saat ini pergeseran pergerakan orang itu dilarang. Kami menolak sampai selesai pandemik korona,” tutur Endang.

Selain itu, penolakan juga disampaikan Wakil Ketua III DPRD Sultra Nursalam Lada. ”Pengajuan 500 orang itu memang ada dasarnya. Tapi kita minta ini ditunda dulu sampai selesai masa tanggap darurat. Sampai Covid-19 habis,” tegas Nursalam. (jp/ps)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel