Orang Indonesia Bikin Alat Rapid Test COVID-19, Harga Rp 160 Ribu


Pantausatu.id - Seorang pengusaha dari Indonesia bernama Santo Purnama disebut berhasil mengembangkan alatrapid test mandiri untuk COVID-19.


Alat ini memungkinkan setiap orang untuk melakukan pengetesan di rumah masing-masing, hanya dalam waktu 10 menit dan dengan harga yang terjangkau (sekitar Rp 160 ribu/unit).

Santo mengembangkan teknologi pengetesan COVID-19 melalui perusahaannya, Sensing Self, yang berbasis di Singapura.

Resmi diproduksi sejak bulan Februari, alat rapid test Sensing Self telah mendapatkan lisensi edar dari tiga pasar penting di dunia, yaitu Eropa (mendapatkan sertifikasi CE), India (disetujui oleh National Institute of Virology dan Indian Council of Medical Research), serta Amerika Serikat.

Untuk pasar Amerika Serikat, FDA telah memberikan persetujuan bagi alat tes Sensing Self, dengan syarat bahwa penggunaannya harus dilakukan di lembaga medis formal.

India, yang mencatatkan angka ribuan kasus positif COVID-19, memesan alat tes cepat Sensing Self sebanyak 3 juta unit.

Terganjal Regulasi


Sebagai warga negara Indonesia, Santo mengaku siap membawa alat tes mandiri ini untuk membantu Pemerintah Indonesia menanggulangi wabah COVID-19. Namun, ia belum mendapatkan persetujuan dari pihak yang berwenang.

"Perang melawan COVID-19 adalah perang melawan waktu. Kita harus menekan laju pertumbuhan pandemi ini dengan melakukan tes seluas mungkin. Oleh karena itu, kami berharap Pemerintah Indonesia bisa memberikan respon positif bagi inisiatif kami untuk membawa alat tes mandiri ini ke Indonesia. Jika setiap orang bisa melakukan tes mandiri, kita bisa meminimalisir risiko infeksi ketika pasien datang ke rumah sakit untuk melakukan tes, serta mengurangi beban tenaga medis yang sudah amat kewalahan," kata Santo dalam keterangan yang diterima detikINET.

Ia menyatakan sudah empat minggu lebih Pemerintah Indonesia belum memberikan keputusan persetujuan terhadap alat tes mandiri ini.

Sebagai perbandingan, badan farmasi Eropa hanya membutuhkan waktu 2-3 minggu untuk memberikan persetujuan.

India menghabiskan seminggu melakukan uji coba, validasi, dan persetujuan akhir.

Pemerintah India disebut langsung memesan jutaan unit alat tes dua hari setelah lisensi diterbitkan.

Santo mengatakan bahwa alat tes COVID-19 dijual dengan harga produksi karena merupakan misi sosial.

"Kami telah mengirimkan alat tes mandiri Sensing Self untuk membantu lembaga-lembaga riset ternama, seperti Mayo Clinic, University of California San Francisco, dan Chan Zuckerberg Biohub. Kami selalu menjaga kualitas produk dan akurasi hasil, karena kami paham bahwa alat ini berhubungan dengan kesehatan seseorang. Pendeteksian dini virus COVID-19 bisa menentukan antara hidup dan mati," tambahnya.

Alat tes mandiri Sensing Self diklaim bisa memberikan hasil deteksi cepat dan akurat karena menggunakan analisis enzim.

Dengan harga murah, yaitu Rp 160 ribu (USD 10), hasil tes dikatakan bisa keluar lebih cepat dibandingkan alat tes lain. Salah satu alternatif pengetesan COVID-19 adalah dengan nostril swab, dimana metode ini memakan biaya Rp1,2 juta sekali tes, dan prosesnya memakan waktu hingga 1 jam, sehingga kurang efisien.

"Kehadiran alat tes mandiri seperti Sensing Self dapat membantu pemerintah untuk menyediakan akses tes yang lebih aman, praktis, dan terjangkau bagi masyarakat luas. Ketika terdapat pasien positif, mereka dapat langsung melakukan isolasi mandiri ataupun mendapatkan perawatan di rumah sakit. Dengan begitu, para tenaga medis bisa benar-benar memfokuskan diri untuk merawat pasien COVID-19 dengan gejala menengah-parah, alih-alih menghabiskan waktu untuk melakukan tes pada ribuan orang," ungkap Santo.

Saat ini, Santo dan tim juga sedang mengembangkan solusi lain untuk melawan pandemi, yakni tes asam nukleat (nucleic acid test) untuk mendeteksi infeksi COVID-19 sedini mungkin dan dengan harga yang sangat terjangkau.

Hasil tesnya diklaim mampu mendeteksi dengan akurasi hingga 99% pada hari pertama mereka terpapar virus. Mereka akan segera meluncurkan produk ini saat sudah siap dalam waktu dekat.

Sensing Self adalah perusahaan yang didirikan Santo bersama Shripal Gandhi, bergerak dalam pengembangan alat tes kesehatan mandiri.

Santo memiliki latar belakang ilmu komputer dan teknologi dari Purdue University dan Stanford University, sementara Shripal Gandhi merupakan lulusan terbaik jurusan teknik kimia dan biosains dari University of Mumbai dan University of California. (detik)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel