Dibantu The Fed, Rupiah Libas Dolar AS & Jadi Jawara Asia


Pantausatu.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat signifikan pekan ini dan mengantarkan mata uang Garuda menjadi jawara di Benua Asia.


Sepekan terakhir nilai tukar rupiah mengalami kenaikan 3,7% (week on week/wow) di hadapan dolar greenback.

Rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik pekan ini di Benua Asia disusul oleh won Korea Selatan yang menguat 1,9% (wow) dan dolar Singapura yang terapresiasi sebesar 1,7% (wow).

Mata uang Asia memang cenderung mengalami penguatan pada sepekan terakhir. Sentimen positif terkait perkembangan terbaru kasus corona menjadi salah satu faktor pemicunya.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan dalam kurun waktu 20 Januari - 6 April, rata-rata pertumbuhan jumlah kasus corona sebesar 12,52% per hari.

Sejak minggu terakhir Maret, laju pertumbuhan turun menjadi single digit atau 9,67% per hari.

Kabar tersebut lantas membuat selera investor terhadap aset-aset berisiko agak membaik karena melihat adanya peluang pandemi corona akan segera berakhir dan ekonomi akan berangsur pulih.

Jika berkaca pada China, ketika jumlah kasus sudah mulai turun secara signifikan dan wabah sudah mulai mencapai puncaknya, ekonomi Tiongkok pun menggeliat.

Hal itu tercermin dari angka Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur China yang mulai mengindikasikan ekspansi di bulan Maret.

Pada bulan Februari, angka PMI manufaktur China anjlok ke level 35,7. Namun di bulan Maret ketika orang-orang di China sudah kembali bekerja, sektor manufaktur China pun mengalami perbaikan.

Hal ini terlihat dari kenaikan angka PMI manufaktur menjadi 50,2. Artinya sektor manufaktur yang tadinya terkontraksi menjadi ekspansif.

Harapan ini lah yang saat ini dirasakan oleh pelaku pasar saat melihat adanya tanda-tanda penurunan kasus dan wabah sudah mencapai puncak secara global walau di sebagian negara masih melaporkan lonjakan kasus.

Walau cadangan devisa nasional pada akhir Maret sebesar US$ 121 miliar, turun US$ 9,4 miliar dibandingkan bulan sebelumnya, dari dalam negeri sentimen positif datang dari otoritas moneter tanah air.

Bank Indonesia (BI) menyepakati kerja sama repurchase agreement (repo) line dengan bank sentral AS, The Fed. Bank Sentral AS nantinya akan menyiapkan stok dolar hingga US$ 60 miliar jika BI membutuhkan.

"Ini bentuknya repo line. Kerja sama dengan bank sentral termasuk BI dengan The Fed. Repo line ini adalah suatu kerja sama untuk kalau BI membutuhkan likuiditas dolar bisa digunakan," kata Perry di Channel Youtube BI, Selasa (7/4/2020).

Perry mengklaim keberhasilan kerja sama ini memberikan keyakinan kepada investor asing.

Selain itu, rupiah yang dikatakan nilainya masih di bawah nilai fundamentalnya (undervalued) menjadi salah satu pemicu penguatan tajam rupiah.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya juga berulang kali menyatakan bahwa saat ini nilai tukar rupiah berada di bawah fundamentalnya, termasuk pada hari ini dalam video conference-nya.

Dengan tanda-tanda stabilitas serta penguatan rupiah belakangan ini, Perry yakin rupiah akan berada di level Rp 15.000/US$ di akhir tahun nanti.

"Kenapa? Pada saat ini nilai tukar rupiah sekarang levelnya secara fundamental dari inflasi, transaksi berjalan, dan perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri, menunjukkan nilai tukar masih undervalue. Bisa cenderung menguat," katanya.

Ia mengatakan, confidence atau keyakinan pasar juga makin besar. Stimulus fiskal, lanjut Perry, menambah kepercayaan diri investor.

"Selain itu, kondisi risiko di global berangsur membaik. Walaupun belum pulih dan masih tinggi tapi cenderung membaik," katanya.

Perry bahkan mengatakan mekanisme pasar sudah mulai membaik dan intervensi yang dilakukan BI untuk menstabilkan rupiah saat ini tidak sebanyak pada pertengahan Maret lalu ketika rupiah menyentuh level Rp 16.620/US$, terlemah sejak krisis moneter 1998.

"Mekanisme bid dan offer bergerak dinamis. Makin sesuai mekanisme pasar. BI kurangi lakukan intervensi, jumlah intervensi relatif kecil karena supply dan demand terpenuhi," tutur Perry. (cnbcindonesia)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel