Ade Armando Kritik Anies Baswedan Gubernur Paling Drama, Bikin Panik Tanpa Pakai Data


Pantausatu.id - Dosen Universitas Indonesia (UI) Ade Armando mengkritisi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan soal potensi 6.000 kasus corona (Covid-19) dalam waktu dua pekan ke depan jika virus tersebut tidak ditangani secara serius.


Ade menilai, pernyataan Anies hanya membuat panik masyarakat karena tidak memakai data. Ia menyebut, sebagai pemimpin, Anies harusnya mengeluarkan pernyataan yang menentramkan.

"Anies Baswedan ini memang Gubernur paling drama! Kok malah nakut-nakutin masyarakat bahwa dalam dua pekan ke depan bisa ada 6.000 kasus corona," tulis Ade di akun Facebook-nya, sabtu (14/3/2020).

"Ini namanya bikin panik orang, tanpa pakai data. Pemimpin itu harusnya menenteramkan. Bukan malah bikin masyarakat panik," sambungnya.

Ade menyampaikan hal tersebut, karena ia meyakini wabah virus corona dapat diatasi dengan aman tanpa perlu membuat masyarakat panik.

"Saya bukannya menganggap remeh, tapi saya ingin optimis saja bahwa kita bisa mengatasi corona dengan aman," ujarnya.

Ade menambahkan, dalam menghadapi wabah virus corona ini maka jangan hanya lihat dari sisi gelapnya, karena itu bisa membuat semakin panik bahkan takut berlebihan.

Menurutnya, perlu dilihat juga sisi cerah yang bisa membuat lebih tenang menyikapi wabah Covid-19. Dalam hal ini Ade menyinggung soal apa yang disampaikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa angka kematian untuk Covid-19 secara global adalah 3,4 persen

"Yuk kita lihat sisi cerah, bukan sisi gelap. Bahkan kalau jumlah penderita corona bertambah terus, saya akan konsentrasi tidak pada terutama berapa banyak korban yang terkena, tapi berapa banyak korban yang sembuh. Yang meninggal 3-4%. Yang hidup 96%," ungkap Ade.

"Kita jangan fokus pada Italia, Iran, Korsel. Tapi kita sebaiknya melihat kondisi puluhan negara lainnya yang korban tewasnya bisa dihitung dengan jari tangan. Dan sejauh ini datanya layak membuat kita percaya," jelasnya.

Karena itu, Ade menegaskan, wabah virus corona tak perlu disikapi secara berlebihan, panik, drama, apalagi mewacanakan Jakarta lockdown (isolasi wilayah).

"Kenapa harus lockdown? Panik? Drama? Kita harus konsentrasi pada hal-hal baik, bukan hal-hal buruk. Kita memang harus hidup lebih hati-hati, tapi ya biasa-biasa saja," katanya.

"Hidup ya seperti ini. Dari tahun ke tahun akan ada penyakit baru. Tapi kita bisa mengatasinya. Yang penting jaga kesehatan. Dan kalaupun terkena, biasa-biasa sajalah," pungkas Ade.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, jika dalam 2 minggu masalah virus corona tidak ditangani dengan serius, maka ada potensi muncul 6.000 kasus masyarakat terjangkit virus corona. Namun demikian, Anies berharap hal tersebut tak terjadi.

"Kalau di Jakarta kita simulasi dengan kondisi seperti sekarang, kalau dua minggu ke depan kita tidak melakukan langkah-langkah yang serius, punya potensi bisa 6.000 kasus, 840 parah, 300 kritis. Ini simulasi dengan menggunakan skenario terburuk," kata Anies ketika menjadi narasumber di acara Mata Najwa, Rabu (11/3/2020). (netralnews)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel