Nilai Tukar Mata Uang Dolar dan Sebab Naik Turunnya Rupiah


Sekarang saya akan menerangkan sedikit tentang sejarah uang, paling tidak ini akan menjadi pengetahuan tambahan bagi kalian. Apa dan bagaimana uang itu? Nanti ada gunanya.

Dahulu dunia menggunakan uang logam, yaitu emas (dinar), perak (dirham), dan tembaga (fulus). Karena logam itu ribet dan berat, maka mulai diganti dengan uang kertas yang dijamin emas, istilahnya pseudo gold.

Berbagai negara, setor emas ke Amerika, lalu dikasih dolar senilai dengan emas tersebut. Dollar tersebut bisa ditukarkan emas di Amerika.

Sistem ini akhirnya gagal, karena negara Eropa tidak ingin mata uangnya dikuasai dolar, maka negara seperti Perancis, mengembalikan dolar dan meminta emasnya.

Sejak tahun 1971, dunia pakai sistem uang fiat. Yaitu semua negara bebas cetak uang masing-masing tanpa jaminan apapun.

Jadi seluruh uang di dunia, hanyalah menggunakan kertas yang di print tanpa jaminan emas lagi. Nilainya hanya trust/kepercayaan saja, tidak memiliki nilai intrinsik berupa jaminan emas.

Bisa dikatakan nilai uang kertas hanya nilai psikologis dalam artian bernilai karena kalian semua dibuat percaya seolah kertas itu bernilai.

Karena nilai uang adalah nilai psikologis, maka kurs/nilai tukar uang sangat dipengaruhi sentimen pasar. Secara psikologis, sentimen dunia lebih tertuju kepada pemain utama atau negara-negara besar. Jadi sedikit berita dari negara maju akan bisa menggerakan kurs/nilai tukar secara liar.

Contoh efek yang terjadi

The Fed Amerika, menaikan suku bunga 0,25%, dolar akan langsung naik tajam. Nah, coba BI melakukan hal sama, menaikan suku bunga 0,25%, tidak akan terlalu berpengaruh untuk mengangkat rupiah. Kenapa bisa begitu?

Karena seperti saya bilang, nilai kurs adalah nilai psikologi, yang bisa menggerakan adalah negara besar seperti Amerika.

Dengan begitu, psikologis/ sentimen pasar uang bisa dipengaruhi dengan berita dari negara maju. Hal inilah yang akan selalu dipakai  untuk mengombang-ambingkan sistem moneter negara berkembang seperti di Indonesia.

Amerika misalnya mau beli komoditas dalam jumlah besar, mereka atur sentimen pasar, dengan keluarkan berita ekonomi, terus dolar mereka bikin naik, jadilah mereka membayar lebih murah, kapan perlu jual keluar, mereka anjlokan dulu dolar biar penjualan banyak.

Kemampuan mengatur grafik kurs itu sangat menguntukan negara besar

Coba kita lihat pemain utama dunia, tentu mudah menggerakan sentimen pasar uang. Pas kita mau bayar utang, keluarkan berita yang bikin rupiah naik, jadi kita bayar lebih murah, heuheu.

Nah, sekarang kalian tahukan mengapa dolar naik terus? Itu 80% memang faktor eksternal, Amerika lagi mau belanja komoditas, supaya mereka bayar lebih murah. Nanti kalau dirasa cukup, mereka akan anjlokin lagi dolar lewat news ekonomi.

Kini, sudah tahukan bahwa nilai uang itu sebenarnya hanya nilai psikologis saja, bukan nilai yang terjamin (emas). Hanya karena kamu percaya dia bernilai, maka uang kertas jadilah bernilai.



Ditulis Oleh:

Deni Ansori, SE (Bendahara DPD PAN Kota Tangerang)
Caleg Kota Tangerang Dapil 5 (Jati Uwung, Cibodas, Periuk)

Redaksi
Media Informasi Indipenden

Berita lainnya